Memahami Al-Qur’an

Konsep tentang manusia dan identitasnya dalam menjabarkan misi kekhalifahan dan ubudiyyah di muka bumi menjadi penentu yang determinan dalam proses mengkaji dan memahami teks suci yang diyakini akan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Falsafah hidup Islam menggariskan bersatunya nilai agama dan dunia, kehidupan manusia untuk misi khilâfah/’imârat al-ardl (keduniaan) dan ubûdiyyah (keakhiratan). Prinsip-prinsip tersebut yang senantiasa harus diindahkan ketika kaum muslim berinteraksi dengan Al-Qur’an. Dalam kajian Al-Qur’an, fikr al-muqârabât antara tafsir (terlebih khusus lagi takwil) dengan hermeneutika yang berkembang di Barat (baik dalam studi biblikal/teologis maupun filsafat sastra secara umum) menjadi tak terelakkan.Oleh karenanya menjadi keharusan bagi mufasir untuk mempertimbangkan, dalam setiap upaya pendekatan ilmiahnya terhadap Al-Qur’an, fakta bahwa nash Al-Qur’an adalah sabda Tuhan (Muhammad Abu Musa: Min Asrâr al-Ta’bir al-Qur’aniy). Upaya penafsiran atau pendekatan ilmiah apapun terhadap Al-Qur’an selalin menuntut kompetensi intelektual para pelakunya juga mengundang ketawadluan mentalitas dan spiritualitas penafsir.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka berkembanglah studi tentang Al-Qur’an baik dari segi kandungan ajarannya yang menghasilkan kitab-kitab tafsir yang disusun menggunakan berbagai pendekatan, maupun dari segi metode dan coraknya yang sangat bervariasi sebagaimana yang kita jumpai saat ini.
Sejak zaman para sahabat Rasulullah SAW, studi tentang kandungan Al-Qur’an sudah mulai berkembang dengan menggunakan berbagai pendekatan, metode dan coraknya. Ada yang menggunakan pendekatan kebahasaan (analisis kebahasaan), pendekatan korelasi antara ayat dengan ayat lain dan sebagainya. Sedangkan metodenya ada yang menggunakan metode tahlili, metode ijmali (secara global), metode muqarin (perbandingan), metode tematik (bertolak dari tema tertentu).
Sehubungan dengan itu terdapat pula para ulama yang secara khusus mengkaji metode menafsirkan Al-Qur’an yang pernah digunakan para ulama mulai dari metode tahlili (analisis ayat per ayat sampai dengan metode maudu’i atau tematik). Demikian juga dengan coraknya, ada yang bercorak teologi, fikih, filsafat, tasawuf, sejarah, ilmiah, politik dan sebagainya. Ada pula yang meneliti Al-Qur’an dari segi latar belakang sejarah dan sosial mengenai turunnya yang selanjutnya menimbulkan apa yang disebut ilmu Asbabun al-Nuzul.
Selanjutnya diantara para ulama ada pula yang secara khusus meneliti kemukjizatan dan keistimewaan Al-Qur’an dari berbagai aspek. Mulai dari segi keluasan kandungannya, susunan kalimat, dan lain sebagainya. Dalam pada itu ada pula yang mengkhususkan diri mengkaji petunjuk cara membaca Al-Qur’an yang selanjutnya menimbulkan ilmu qira’at termasuk pula ilmu tajwid. Disamping itu, ada juga ilmu-ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan al-Qur’an antara lain :
1.Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya ayat Qur’an.
2.Gharibil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat yang asing artinya dalam Al-Qur’an.
3.Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna apa yang dikehendaki oleh sesuatu ayat dalam Al-Qur’an.
4.Ilmu Amtsalil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.
5.Ilmu Aqsamil Qur’an, yaitu ilmu yang mempelajari tentang maksud-maksud sumpah Tuhan dalam Al-Qur’an.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s