Situs Megalit Serunting Sakti: Semidang Alas, Seluma

Penelitian Prasejarah di Provinsi Bengkulu dapat dikatakan masih minim dilakukan namun, namun semenjak tahun 1993 situs-situs di wilayah ini mulai diteliti oleh tim gabungan Puslit Arkenas maupun dari Balai Arkeologi Palembang. Dari penelitian tersebut telah dikumpulkan data yang bervariasi, baik dari masa Paleolitik sampai masa Paleometalik, dan dari penelitian yang terakhir didapatkan gambaran tentang sistem penguburan dengan tempayan berserta temuan bekal kubur berupa belincung persegi dan beliung persegi yang berasal dari situs Padang Sepan, Kecamatan Air Besi (Kristantina, Indriastuti, 2002).Letak geografis Provinsi Bengkulu dibatasi oleh 3 buah Provinsi. Sumatera barat, Sumatera Selatan, dan Lampung. Bagian Utara Provinsi tersebut adalah Bukit Barisan dan bagian Selatan adalah Samudera Indonesia. Kawasan Bukit Barisan merupakan wilayah sebaran budaya Pasemah yang meliputi daerah Jambi, Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu. Bukti dari persebaran tersebut diantaranya ditemukan tinggalan-tinggalan megalitik yakni menhir (batu tegak), beliung, (dolmen) meja batu, lumpang batu, gerabah, dan tempayan kubur .
Dalam upaya mengungkapkan pemukiman masa prasejarah, Frank Hole & Robert F. Heizer melakukan pendekatan pemukiman (settlement approach) dengan memberikan perhatian pada pembahasan dari studi artefaktual dan situs-situs secara individual menjadi studi wilayah kebudayaan antar-situs dan antar wilayah regional (Hole & Heizer, 1973:355). Dalam arkeologi, studi keruangan (spatial archaeology) didefinisikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh kembali informasi yang berkaitan dengan arkeologi keruangan serta studi aktivitas manusia dalam dan diantara featur dan struktur serta artikulasinya dalam situs, sistem situs dan lingkungannya. Dengan kata lain dalam arkeologi ruang kegiatan manusia berada dalam setiap skala dan berhadapan dengan sejumlah elemen-elemen yang saling menjalin keterhubungan (Clarke, 1978 : 132-138).
Pemukiman masa prasejarah yang dijadikan pokok bahasan adalah pemukiman masa megalitik yang tampak melalui tinggalana budaya yang dihasilkan berupa benda mati yang secara konteks tidak ada hubungannya dengan pemukiman mereka. Menyitir pendapat Gordon Willey dalam penelitiannya di lembah Viru, Peru, menyebutkan: “mencari data tentang bagaimana cara manusia mengatur dirinya di suatu bentang alam (landscape) tempatnya hidup”. (Willey, 1995 :1; Mindra Faizaliskandiar, 1998:5).
Demikian pula terhadap pemukiman masa prasejarah di wilayah Bengkulu, temuan tinggalan-tinggalan yang bercorak megalitik yang tersebar di Daerah seperti kabupaten Bengkulu Utara, kabupaten Rejang Lebong, dan Kabupaten Bengkulu Selatan menunjukkan kehidupan yang telah menetap dengan segala pranata sosial yang berlaku.
Pengungkapan pemukiman megalitik di wilayah Provinsi Bengkulu adalah sangat menarik dibicarakan, dengan keletakan situs, wilayah, geografis , lingkungan dan hasil-hasil budayanya memberikan gambaran adanya persebaran budaya yang sama terhadap tinggalan-tinggalan megalitik maupun pemukiman prasejarah di Provinsi Sumatera bagian Selatan seperti di dataran tinggi Pasemah.
Wilayah Provinsi Bengkulu secara geografis berada di wilayah Sumatera bagian Selatan. Rentang jarak antara garis pantai dan dataran tinggi berukuran sekitar 35 km. Merupakan wilayah daratannya sempit dan memanjang dari utara ke selatan, Keletakan Provinsi Bengkulu yang berada di daerah pesisir barat Sumatera membuatnya cukup startegis bagi persebaran budaya. Demikian pula dengan adanya batas Bukit Barisan yang menjadi bagian dari persebaran budaya megalitik Pasemah.
Tinggalan budaya megalitik di wilayah Provinsi Bengkulu menunjukkan gejala persebaran budaya yang terjadi di wilayah Sumatera bagian Selatan, yang meliputi wilayah Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung. Terminologi persebaran linear pada arah utara-selatan seperti persebaran budaya serpih bilah dan mikrolit dari India yang menyebar ke kepulauan Andaman dan Sumatera (Bellwood, 1985: 279). Demikian pula tinggalan megalitik di Provinsi Bengkulu menunjukkan kemiripan budaya dengan temuan daris itus-situs di wilayah Provinsi Lampung dan Lahat.
Dengan kenyataan ini, maka perkembangan situs-situs megalitik di Provinsi Bengkulu perlu dibuktikan mengenai adanya kesinambungan persebaran budayanya secara jelas, terutama yang berkaitan dengan pemukiman megalitiknya. Permasalahan-permasalahan yang perlu di ungkapkan di sini seperti keterkaitan antara pemukiman dengan sumberdaya alam, hasil-hasil budaya serta corak budayanya perlu dibahas lebih lanjut, dalam kaitannya untuk mengungkapkan pemukiman masa prasejarah di wilayah Bengkulu.
Pemukiman megalitik yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah berdasarkan data-data yang telah terkumpul, baik dari penelitian survei maupun ekskavasi yang berada di wilayah Provinsi Bengkulu baik yang dilakukan oleh penulis sendiri maupun peneliti-peneliti dari Balai Arkeologi Palembang dan Puslitarkenas. Kajian pola pemukimanyang dipelopori oleh Gordon Willey pada tahun 1940-1960 menekankan pada pemahaman hubungan antara artefak dengan lingkungannya atas dasar konteks dan mengubah kecenderungan penelitian arkeologi dari kajian benda-benda secara morfologis (artifact oriented) kepada kajian yang berorientasi keruangan (spatial analysis) (Mundarjito, 1997 : 1).
Pendekatan pemukiman ( settlement approach ) juga dilakukan oleh Frank Hole and Robert F. Heizer dengan memberikan perhatian pada perubahan dari studi artefak dan situs secara individual menjadi studi atas wilayah kebudayaan antar situs dan antar wilayah regional (Hole & Heizer, 1973:355). Paradigma kajian arkeologi ruang yang cakupannya luas oleh David Clarke membagi satuan ruang analisis secara relatif ke dalam tiga sekala, yaitu mikro, semi mikro, dan makro. Satuan skala mikro pada tingkatan interpretasinya dikaitkan pada komunitas keluarga, kemudian komunitas desa (meso) dan masyarakat luas di suatu kawasan  (makro) (Clarke, 1977).
Pada pokok bahasan mengenai pola pemukiman megalitik di wilayah Provinsi Bengkulu, keberadaan situs-situs megalitik di provinsi Bengkulu menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya ( Subroto, 1983:176 ). Bukti-bukti dari kehidupan masyarakat tersebut diwujudkan dalam hasil-hasil budayanya yang dalam hal ini bentuk budaya megalitik.
Dari hasil-hasil penelitian dan pendiskripsian temuan eksistensi temuan masih tergolong lebih sederhana apabila dibandingkan dengan hasil-hasil budaya megalitik di wilayah Pasemah kabupaten Lahat yang oleh von Heine Geldern dikatakan sangat dinamis atau the strongly dynamic agitated ( Geldern,1945; Haris Sukendar & Ayu Kusumawati, 2003 :8 ).
Berangkat dari teori persebaran yang berlangsung sejak akhir Plestosen dimana budaya serpih bilah dan mikrolit menyebar dari India ke beberapa arah dan salah satunya menempuh jalur Selatan menuju ke pulau Andaman dan Sumatera (Bellwood, 1979), kemudian kemungkinan adanya persebaran budaya linear pada arah Utara atau Selatan walaupun belum memperlihatkan kesinambungan yang jelas (Simanjuntak, 1993 :5). Demikian pula dengan tinggalan-tinggalan megalitik di Bengkulu jika dilihat dari luas wilayah yang sempit dan memanjang dari arah Utara-Selatan dengan jarak dari garis pantai sekitar 35 km, kemudian secara geografis dibatasi oleh perbukitan Bukit Barisan, maka timbul pertanyaan bagaimanakah eksistensi tinggalan megalitik- megalitik tersebut terhadap tinggalan megalitik Pasemah.
Semidang Alas adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Seluma, Bengkulu, Indonesia. Ibu kota Kecamatan berada di Desa Pajar Bulan. Desa-desa lain yang berada dalam Kecamatan Semidang Alas Maras adalah Air Melancar, Bandung Agung, Cugung Langu, Gunung Mesir, Kayu Elang, Maras Jauh, Mekar Sari Mukti, Muara Dua, Nanjungan, Nanti Agung, Napalan, Padang Serunaian, Pajar Bulan, Petai Kayu, Pinju Layang, Rantau Panjang, Renah Gajah Mati I, Renah Gajah Mati II, Talang Durian,  dan Tebat Gunung
Desa Rantau Panjang
Terletak 3 km dari jaln raya Bengkulu-Manna di tepi aliran Sungai Alas, di ketinggian 20 m di atas permukaan air. Di desa tersebut terdapat empat kelompok makam sbb:
1. Kelompok makam 1, disebut Makam Poyang Magacipatia, terletak 1 m dari pintu masuk sebelah Timur mempunyai orientasi nisan utara-selatan dan secara keseluruhan luas keolompok makam adalah 1,2 m x 1,5 m.
2. Kelompok makam II disebut sebagai makam Ketunggalan yang terdiri dari 1 buah batu bulat.
3. Kelompok makam III sebagai kompleks makam Ketunggalan yang terdiri dari 2 tingkat dengan perbedaan tinggi tingkatan sekitar 40 cm.
4. Kelompok makam IV sebagai makam Serunting Sakti terdiri dari 3 buah nisan.
Bukit Gerinsing (Gerincing)
Terletak di seberang utara Desa Rantau Panjang atau di sisi utara Sungai Alas. Lokasi situs merupakan puncak bukit dimana terdapat temuan megalitik.Temuan megalitik-megalitik tersebut antara lain :
1. Dolmen berkaki empat, disebut juga “Batu Kinaat” (tempat merenung), terletak 60 m dari pertigaan jalan setapak. Meja dolmen berbentuk bulat tidak beraturan dan permukaannya tidak begitu rata dengan diameter 100cm, tebal 18 cm. Kaki dolmen berbentuk batu bulat beraturan dengan besar antara 30 ??? 70 cm, tinggi rata-rata 20cm.
2. Dolmen berkaki 3 disebut juga Batu Sembahyang dengan ukuran lebar 90 cm, tebal 20 cm, dan panjang 120 cm. Di sekitar meja terdapat 5 buah batu bulat dengan ukuran panjang 30 – 50 cm , lebar 15 – 25 cm, dan tinggi 5 – 10 cm.
3. Batu datar disebut juga Batu jongkok terletak 22,8 m, di sebelah tenggara Batu Sembahyang, merupakan tiga buah batu besar yang berukuran panjang 50-60 cm, lebar 18-40 cm, dan tinggi 10-20 cm membentuk sudut segitiga.
4. Batu Ketunggalan terletak sekitar 140 m ke arah Barat dari pertigaan jalan setapak, berupa 2 baris batu tegak ( nisan ) yang mempunyai panjang barisan 2,60 cm, lebar 1,40 m. Baris disisi utara terdiri dari 17 batu, di sisi selatan terdiri 16 batu dan tinggi antara 10-40 cm.
5. Makam serunting, terletak 22,5 m di barat daya Batu Ketunggalan.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Bengkulu, Sejarah Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s