Nuruddin Ar-Raniri: negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan

Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Ulama Aceh Terkenal. Nama lengkapnya, Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji Al-Hamid (atau Al-Syafi’i Al-Asyary Al-Aydarusi Al-Raniri (untuk berikutnya disebut Al-Raniri). la dilahirkan di Ranir (Randir), sebuah kota pelabuhan tua di Pantai Gujarat, sekitar pertengahan kedua abad XVI M. Syekh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Rani, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644. Ibunya seorang keturunan Melayu, sementara ayahnya berasal dari keluarga imigran Hadhramaut (Al-Attas: 1199 M). Ia adalah ulama penasehat di kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II).
Seperti ketidakpastian tahun kelahiran, asal usul keturunan Al-Raniri pun memuat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, nenek moyangnya adalah keluarga Al-Hamid dari Zuhra (salah satu dari sepuluh keluarga Quraisy). Sementara kemungkinan yang lain Al-Raniri dinisbatkan pada Al-Humayd, orang yang sering dikaitkan dengan Abu Bakr ‘Abd Allah b. Zubair Al-As’adi Al-Humaydi, seorang mufti Makkah dan murid termasyhur Al-Syafii (Azra 1994).
Daerah asal Al-Raniri, sebagaimana layaknya kota-kota pelabuhan yang lain, kota Ranir sangat ramai dikunjungi para pendatang (imigran) dari berbagal penjuru dunia.
Ada yang berasal dari Timur-Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa. Tujuan utama mereka untuk melakukan aktifitas bisnis dan mencari sumber-sumber ekonomi baru. Di samping itu, mereka juga berdakwah dan menyebarluaskan ilmu-ilmu agama, sehingga menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dari Ranir pula, mereka kemudian berlayar kembali menuju pelabuhan-pelabuhan lain di Semenanjung Melayu dan Hindia untuk keperluan yang sama.
Jadilah orang Ranir dikenal sebagai masyarakat yang gemar merantau dari satu tempat ke tempat yang lain. Pola hidup yang berpindah-pindah seperti ini juga terjadi pada keluarga besar Al-Raniri sendiri, yaitu ketika pamannya, Muhammad Al-jilani b. Hasan Muhammad Al-Humaydi, datang ke Aceh (1580-1583 M) untuk berdagang sekaligus mengajar ilmu-ilmu agama, seperti fiqh, ushul fiqh, etika, manthiq, dan retorika. Kebanyakan dari mereka (perantau) biasanya menetap di kota-kota pelabuhan di pantai Samudera Hindia dan wilayah-wilayah kepulauan Melayu-Indonesia, lainnya (Azra: 1994).
Nuruddin al-Raniri tiba di Aceh pada hari Ahad 6 Muharram 1047 H, bertepatan dengan tanggal 31 mei 1637 M mengikuti jejak pamannya sebelumnya mengunjungi dan menetap di Aceh bernama Muhammad Jailani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniri yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Mansur Syah dari Perak (1577-1586).
Pada tahun 1637 M Nuruddin al-Raniri berada di Kutaradja (Aceh) dan menetap selama tujuh tahun dari masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) yang masih memiliki keturunan putra sultan Pahang yaitu menantu Sultan Iskandar Muda dan Sultanah Safiatuddin Syah istri Sultan Iskandar Tsani dan putri Sultan Iskandar Muda.
Sebagai ahli bidang syariat dan teolog, Nuruddin al-Raniri juga dikenal sebagai seorang syaikh dalam Tarekat Qadariyah dan Rifa’iyyah. Ia belajar kepada Syeikh Abu Hafs ‘Umar bin ‘Abdullah Ba Syaiban atau dikenal dengan Saiyid ‘Umar al-‘Aidrus Ba Syaiban (970-1030 H), kepada ulama ini beliau mengambil bai’at Thariqat Rifa’iyah. Al-Raniri ditunjuk oleh Ba Syaiban sebagai khalifah dalam Tarekat Rifa’iyyah dan bertanggung jawab untuk penyebarannya di wilayah Melayu-Indonesia.
Ide pemikiran dan fatwa Nuruddin al-Raniri dituangkan dalam kitab-kitab karyanya mayoritas bersifat polemis dan sampai pada batas apologetis, ada sekitar 31 kitab (mungkin lebih) yang ditulis olehnya dan sebagian besarnya tentang fatwa pertentangan doktrin mistiko-filosofis Wujudiyyah yang telah berkembang turun temurun pada pengikut Wujudiyyah di Aceh yang dianggapnya sesat dan menyimpang. Ar-Raniri dikatakan pulang kembali ke India setelah beliau dikalahkan oleh dua orang murid Hamzah Fansuri pada suatu perdebatan umum. Ada riwayat mengatakan beliau wafat di India.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Dunia, Sejarah Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s