Revolusi agama hingga kesusastraan

Hamzah Fansuri, Syair:94-96
Dengarkan hai anak dagang
Jangan gila mencari larang
Artamu kau bilang-bilang
Kauikat-ikat takut kan hilang
Terlari-lari seperti kijang
Olehnya itu mahbubmu serang
Dunyan nin yogya kausarah
Dengan diri mu jangan kau jarak
(Hamzah Fansuri, syair; 94-96)

Lebih dari setengah jumlah penduduk Asia Tenggara menerima Islam atau Kristen dalam kadar tertentu selama kurun niaga. Perubahan–perubahan itu ternyata bersifat sementara, tetapi penerimaan formal atas kedua “agama kitabbiah” itu ternyata penting dan bertahan. Namun sudah tentu penyesuaian dengan bentuk ideal perilaku Islam dan Kristen oleh masing-masing orang dan negara itu adalah masalah lain lagi. Sesengguhnya perkembanggan pesat kearah itu menjadi lambat atau bahkan bertentangan arah pada akhir kurun waktu itu, sekali pun tradisi sastra menjamin agar generasi-generasi berikut nya berulang kali di tantang untuk menyesuaikan diri denggan tuntunan-tuntunan yang lebih keras itu.
Islam (baik Sunni maupun syi’ah), Kristen Katolik maupun Nestorian, Konfusianisme, Yahudi, dan berbagai aliran Hindu dan Buddhis, semuanya pernah dibawah oleh para pedagang dan musafir di Asia Tenggara sejak awal tarikh masehi. Gagasan-gagasan Hindu dan Buddhis mudah di serap oleh kalangan keraton , yang tidak diharuskan bersifat eksklusif atau ortodoks. Orang-orang muslim dan Kristen , seperti halnya orang-orang Yahudi dan penggikut agama Cina, pada mulanya dalam keadaan yang di Afrika di nama kan “status karantina”, di terima sebaggai minoritas pedaggang tetapi tidak banyak di harap kan akan mengubah agama penduduk setempat atau menerima agama mereka (Fisher 1973 : 31). Pada ahir abat ke-13 dan abat ke-14 Islam telah membangun kumunitas-kumunitas niaga  yang lebih jelas di kota-kota pelabuhan di Sumatra Utara , Jawa Timur, Campa dan pantai timur Malaya. Bahwa keadaan karantina tersebut cocok dengan keaadaan negara- negara Muslim pertama di wilayah bawah angin, seperti Pasai di Sumatra Utara pada tahun 1297 , ternyata dari adanya suatu tuntutan agar penduduk mnnya menguasai bahasa Arab (Sejarah Melayu 1612:76).
Keberhasilan utama Islam di wilayah bawah angin terjadi diantara tahun 1400 dan tahun 1650 (peta no.9) dalam abat ke-15 Malaka menjadi Islam dan sekaligus kota pelabuhan terbesar di wilayah itu, serta mendorong penyebaran agama islam ke seluruh wilayah pesisir semenanjung malayah dan Sumatra Timur. Kota-kota pelebuhan Islam kemudian menyusul sepanjang jalur perdagangan rempah-rempah ke pantai Utara Pulau Jawa dan Maluku , juga jalur perdagangan lainnya, ke Berunai dan Manila. Ketika Portugis tiba pada tahun 1509 , agama Islam merupakan gejala manoritas pesisiran sekitar pusat-pusat perdagangan orang muslim. Mengenai Maluku Utara Tome Pires menulis (1515:213), “sepertiganya atau lebih adalah orang kafir”, dan seabat kemudian seorang pejabat Belanda merasa yakin bahwa di Ambon hanya terdapat sekitar 300 orang Islam yang taat (Gijsels 1621:26). Kehancuran Malaka dan pelayaran niaga orang Islam yg pertama kali yang di lakukan oleh Portugis yang tidak berakibat meluasnya agama Kristen tetapi justru terjadi konsoldilasi kekuasaan dalam tangan dinasti-dinasti muslim yang sanggup dan bersedia untuk melawan ancaman itu. Aceh dan Banten dibangun sebagai pusat-pusat muslim yang anti-Portugis di tahu 1520-an,sedangkan sisa-sisa kebesaran kerajaan Hindu-Jawa Majapahit jatuh ke tangan pasukan-pasukan Islam di sekitar tahu 1527.
Periode Islamnisasi dan Kristennisasi yg paling kuat bertepatan dgn puncak kurun niaga, yaitu masa membajirnya perak di tahun-tahun 1570-1630. Setelah Manila direbut spanyol pada tahun 1571, hampir semua penduduk dataran rendah Pulau Luzon menerima agama Kristen sekitar tahun 1620 dan penduduk Visayas di tahun 1950 suatu perubahan  agama yg besar yg belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah misi Kristen (Schumacher 1984:252). Kontrarepormasi dan gerakan misi jetsuit membawa agama Kristen (tidak saja senjata Liberia) ke Indonesia timur dan vietnam.
Bagi agama Islam, periode ini adalah masa hubungan langsung secara komersial, agama dan militer  dengan Mekkah dan Kalifah Usmani (Ottoman), peningkatan semangat konfrontasidngan kaum kafir yang secara agresif di wakili Portugis. Permusuhan Kristen mengkotak–kotakkan solidaritas internasional dan menekan pihak-pihak yg berdagang agar memihak pada salah satu agama. Islam di terima oleh para penguasa Mataram (Jawa Tengah) , Sulawesi Selatan (1603-1612) , Button , Lombok, Sumbawa, Mindanao, dan Kalimantan Selatan. Kerajaan-kerajaan yg bermunculan itu , khususnya Aceh, Johor, Patani, Banten, dan Ternate mengembangkan kekuasaan daerah pendalamanya masing-masing sejalan dengan tuntunan agar penduduknya agar memeluk agama Islam. Bukti pertama dan nyata mengenai adanya tulisan-tulisan sarjana Islam dalam bahasa Melayu ini berasal dari tahun 1590-an , tetapi sastra islam ini, segera mencapai puncak nya berupa karya Hamzah Fansuri, Syamsudin As-sumatrani, Nuru’ddin Ar-ranniri, dan Abdurr’auf As-singkili. Mekarnya kesustraan ini sezaman munculnya kesusteraan agama Kristen berbahasa Melayu (berawal dengan Xaverius pada tahun 1540-an), berbahasa Tagalok (sejak tahun 1580-an ) dan berbahasa Vietnam (Rhodes sejak tahun 1627). Sumber: Anthony Reid. Dari ekspansi hingga krisis : jaringan perdagangan global Asia Tenggara 1450-1680 jilid II.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Sejarah Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s