Monthly Archives: Februari 2012

Hamzah Al-Fansuri: Ulama, Sufi dan Sastrawan

Hamzah al-Fansuri atau dikenal juga sebagai Hamzah Fansuri adalah seorang ulama sufi dan sastrawan yang hidup di abad ke-16. Meskipun nama ‘al-Fansuri’ sendiri berarti ‘berasal dari Barus’ (sekarang berada di provinsi Sumatra Utara) sebagian ahli berpendapat ia lahir di Ayuthaya, ibukota lama kerajaan Siam. Hamzah al-Fansuri lama berdiam di Aceh. Ia terkenal sebagai penganut aliran wahdatul wujud. Dalam sastra Melayu ia dikenal sebagai pencipta genre syair.
Hamzah Fansuri merupakan adalah seorang cendekiawan, ulama tasawuf, sastrawan dan budayawan terkemuka. Banyak hal yang tak diketahui dengan pasti mengenai Hamzah Fansuri, baik kelahiran maupun kematiannya. Riwayat hidup Syekhpun sedikit sekali diketahui. Sekalipun demikian, dipercaya bahwa Hamzah Fansuri hidup antara pertengahan abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Kejian terbaru dari Bargansky menginformasikan bahwa Syekh hidup hingga akhir masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan mungkin wafat beberapa tahun sebelum kedatangan Nuruddin ar-Raniry yang keduakalinya di Aceh pada tahu 1637. Sebelumnya, Syed Muhammad Naguib al-Attas berpendapat bahwa Syekh hidup sampai masa awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang masyhur itu.
Barginsky mengutip laporan laksamana Perancis Bealeu yang telah dua kali mengunjungi Aceh. Kungjungan kedua dilakukan pada tahun 1620 semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Dalam laporannya, Bealeu antara lain mengatakan; ketika melewati istana dia melihat Sultan Aceh murka kepada seorang tokoh kerohanian yang berwajah kenabian dengan menutup pintu keras-keras. Seandainya tokoh ini seorang pejabat istana seperti Syamsuddin Pasai, sudah tentu tak akan dimurkai oleh Sultan. Selain itu, dia tentu tak akan berani menegur Sultan yang sedang menyiapkan upacara meditasi menyambut datangnya bulan purnama. Bargansky memastikan bahwa tokoh kerohanian itu adalah Syekh Hamzah Fansuri, sedang pejabat keagamaan yang tampak bersama Sultan adalah Syekh Syamsuddin Pasai yang ketika itu menjabat perdana menteri. Keberanian tokoh kerohanian itu untuk menegur Sultan sejalan dengan keberanian Syekh Hamzah Fansuri menyampaikan kritik yang ditujukan kepada Sultan, khususnya sehubungan dengan penyimpangan praktek keagamaan dan kerohanian yang dilakukan para pembesar istana Aceh termasuk Sultan.
Tempat lahir Hamzah Fansuri juga menimbulkan perselisihan faham. Pada umumnya para sarjana berpendapat bahwa Hamzah Fansuri dilahirkan di Barus, sebuah bandar yang terletak di pandat Barat Sumatera Utara diantara Singkel dan Sibolga. Ia berasal dari keluarga Fansuri, yang telah turun temurun berdiam di Fansur. Fansuri adalah nama yang diberikan pelaut zaman dahulu kala. Tetapi menurut Syed Muhammad Naguib al-Attas, Hamzah Fansuri dilahirkan di Syahri Nawi, yaitu Ayuthia, Ibukota Siam yang didirikan pada tahun 1350. Syed Muhammad al-Attas sampai kepada kesimpulan berdasarkan dua lirik syair Hamzah Fansuri yang berbunyi:
“Hamzah nin asalnya Fansuri Mendapat wujud di tanah Syahr Nawi.”
Terdapat beberapa kata kunci yang dapat memberikan petunjuk tempat kelahirannya, yaitu “wujud” dan “Syahr Nawi”. Al-Attas merujuk kepada “wujud” sebagai keberadaan (laghir) Hamzah Fansuri. Ide ini membawanya kepada keyakinan bahwa meskipun orang tuanya berasal dari Barus, Hamzah lahir di Syahr Nawi, sebuah nama tua dari kota Ayuthia.
Professor Dreweas tidak setuju dengan tafsiran pada dua lirik di atas. Menurut Drewes, mendapat wujud berarti mendapat ajaran tentang wujudiyah. Kota Syahri Nawi pada paruh kedua abad ke-16 adalah kota dagang yang banyak dikunjungi oleh pedagang Islam dari India, Paris, Turki dan Arab. Sedah tentu banyak ulama juga tinggal di bandar ini, dan di bandar inilah Hamzah berkenalan dengan ajaran wujudiyah yang kemudian dikembangkannya di Aceh.
Ia banyak melakukan perjalanan, antara lain ke Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Mekkeh dan Madinah. Seperti sufi lainnya, pengembaraannya bertujuan untuk mencari ma’rifat Allah SWT. Setelah Hamzah fansuri mendapat pendidikan di Singkel dan beberapa tempat lainnya di Aceh, beliau meneruskan perjalanannya ke India, Persia dan Arab. Karena itu beliau fasih berbahasa Melayu, Urdu, Parsi dan Arab. Dipelajari ilmu fiqh, tasawuf, tauhid, akhlaq, mantik, sejarah, bahasa Arab dan sastranya. Ilmu-ilmu itu pula beliau ajarkan dengan tekun kepada murid-muridnya di Banda Aceh, Geugang, Barus dan Singkel. Beliau membangun dan memimpin pesantren di Oboh Simpangkanan Singkel sebagaimana abangnya Syekh Ali Fansuri membangun dan memimpin pesantren di Simpangkiri Singkel, pesantren Simpangkanan merupakan lanjutan dari Simpangkiri.
Bersama-sama dengan Syekh Syamsuddin as-Sumatrani, Hamzah Fansuri adalah tokoh Wujudiyah (penganut paham Wahdatul Wujud). Ia dianggap sebagai guru Syamsuddin as-Sumatrani. Bersama dengan muridnya ini, Hamzah Fansuri dituduh menyebarkan ajaran-ajaran sesat oleh Nuruddin ar-Raniry, ulama yang paling berpengaruh di istana Sultan Iskandar Muda. Ar-Raniry menyatakan didalam khutbah-khutbahnya bahwa ajaran tasawuf Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani termasuk ajaran kaum zindiq dan panteis. Ribuan buku karangan penulis Wujudiyah ditumpuk dihadapan Masjid Raya Kutaraja untuk dibakar sampai musnah.
Hamzah Fansuri adalah seorang ahli tasawuf, zahid dan mistik yang mencari penyatuan dnegan al-khaliq dan menemunya dijalan kasih Allah atau Isyk. Bertujuan mengenal inti sari ajaran tasawuf, ia lama mengembara; misalnya ke Baghdad, kota yang menjadi pusat tarekat Qadariyah, kemudian juga ke kota suci Mekkah dan Madinah, serta Kudus di Jawa.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Dunia, Sejarah Indonesia

Nuruddin Ar-Raniri: negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan

Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Ulama Aceh Terkenal. Nama lengkapnya, Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji Al-Hamid (atau Al-Syafi’i Al-Asyary Al-Aydarusi Al-Raniri (untuk berikutnya disebut Al-Raniri). la dilahirkan di Ranir (Randir), sebuah kota pelabuhan tua di Pantai Gujarat, sekitar pertengahan kedua abad XVI M. Syekh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Rani, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644. Ibunya seorang keturunan Melayu, sementara ayahnya berasal dari keluarga imigran Hadhramaut (Al-Attas: 1199 M). Ia adalah ulama penasehat di kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II).
Seperti ketidakpastian tahun kelahiran, asal usul keturunan Al-Raniri pun memuat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, nenek moyangnya adalah keluarga Al-Hamid dari Zuhra (salah satu dari sepuluh keluarga Quraisy). Sementara kemungkinan yang lain Al-Raniri dinisbatkan pada Al-Humayd, orang yang sering dikaitkan dengan Abu Bakr ‘Abd Allah b. Zubair Al-As’adi Al-Humaydi, seorang mufti Makkah dan murid termasyhur Al-Syafii (Azra 1994).
Daerah asal Al-Raniri, sebagaimana layaknya kota-kota pelabuhan yang lain, kota Ranir sangat ramai dikunjungi para pendatang (imigran) dari berbagal penjuru dunia.
Ada yang berasal dari Timur-Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa. Tujuan utama mereka untuk melakukan aktifitas bisnis dan mencari sumber-sumber ekonomi baru. Di samping itu, mereka juga berdakwah dan menyebarluaskan ilmu-ilmu agama, sehingga menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dari Ranir pula, mereka kemudian berlayar kembali menuju pelabuhan-pelabuhan lain di Semenanjung Melayu dan Hindia untuk keperluan yang sama.
Jadilah orang Ranir dikenal sebagai masyarakat yang gemar merantau dari satu tempat ke tempat yang lain. Pola hidup yang berpindah-pindah seperti ini juga terjadi pada keluarga besar Al-Raniri sendiri, yaitu ketika pamannya, Muhammad Al-jilani b. Hasan Muhammad Al-Humaydi, datang ke Aceh (1580-1583 M) untuk berdagang sekaligus mengajar ilmu-ilmu agama, seperti fiqh, ushul fiqh, etika, manthiq, dan retorika. Kebanyakan dari mereka (perantau) biasanya menetap di kota-kota pelabuhan di pantai Samudera Hindia dan wilayah-wilayah kepulauan Melayu-Indonesia, lainnya (Azra: 1994).
Nuruddin al-Raniri tiba di Aceh pada hari Ahad 6 Muharram 1047 H, bertepatan dengan tanggal 31 mei 1637 M mengikuti jejak pamannya sebelumnya mengunjungi dan menetap di Aceh bernama Muhammad Jailani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniri yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Mansur Syah dari Perak (1577-1586).
Pada tahun 1637 M Nuruddin al-Raniri berada di Kutaradja (Aceh) dan menetap selama tujuh tahun dari masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) yang masih memiliki keturunan putra sultan Pahang yaitu menantu Sultan Iskandar Muda dan Sultanah Safiatuddin Syah istri Sultan Iskandar Tsani dan putri Sultan Iskandar Muda.
Sebagai ahli bidang syariat dan teolog, Nuruddin al-Raniri juga dikenal sebagai seorang syaikh dalam Tarekat Qadariyah dan Rifa’iyyah. Ia belajar kepada Syeikh Abu Hafs ‘Umar bin ‘Abdullah Ba Syaiban atau dikenal dengan Saiyid ‘Umar al-‘Aidrus Ba Syaiban (970-1030 H), kepada ulama ini beliau mengambil bai’at Thariqat Rifa’iyah. Al-Raniri ditunjuk oleh Ba Syaiban sebagai khalifah dalam Tarekat Rifa’iyyah dan bertanggung jawab untuk penyebarannya di wilayah Melayu-Indonesia.
Ide pemikiran dan fatwa Nuruddin al-Raniri dituangkan dalam kitab-kitab karyanya mayoritas bersifat polemis dan sampai pada batas apologetis, ada sekitar 31 kitab (mungkin lebih) yang ditulis olehnya dan sebagian besarnya tentang fatwa pertentangan doktrin mistiko-filosofis Wujudiyyah yang telah berkembang turun temurun pada pengikut Wujudiyyah di Aceh yang dianggapnya sesat dan menyimpang. Ar-Raniri dikatakan pulang kembali ke India setelah beliau dikalahkan oleh dua orang murid Hamzah Fansuri pada suatu perdebatan umum. Ada riwayat mengatakan beliau wafat di India.

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Dunia, Sejarah Indonesia

Bilangan dalam bahasa Sanskerta

Angka / Bilangan

Bahasa Sanskerta

Angka / Bilangan

Bahasa Sanskerta

0

Sunya

11

Ekadasa

1

Eka

12

Dvasasa

2

Dvi=dwi

13

Tridasa

3

Tri

14

Caturdasa

4

Catur

15

Pancadasa

5

Panca

16

Shash

6

SAS

17

Saptadasa

7

Sapta

18

Astadasa

8

Asta

19

Navadasa

9

Nava=Nawa

20

Vimsati

10

Dasa

 

Angka / Bilangan

Bahasa Sanskerta

Angka / Bilangan

Bahasa Sanskerta

30

Trimsati

1000

Sahasra

40

Catvarimsati

2000

Dvisahasra

50

Pancasat

3000

Trisahasra

60

Sasti

4000

Catursahasra

70

Sapti

10.000

Dahasahasra, ayuta

80

Asiti

20.000

Vimsatsahasra

90

Navati

30.000

Trimsatsahasra

100

Satam, sata

100.000

Satasahasra, laksha, lak

200

Dvisata

200.000

dvi-sata-Sahasra

300

Trisata

300.000

tri-sata-Sahasra

356

Sat pancasat trisata

1 juta

Prayuta, niyuta

400

Catursata

10 juta

Koti, krore

500

Pancasata

100 juta

arbuda, vrnda, nyarbuda

 

Angka / Bilangan

Bahasa Sanskerta

1,000,000,000

abja, shatakoti, maharbuda, nikharva, nikarvaka, badva

10,000,000,000

Kharva

100,000,000,000

nikharva, akshita

1,000,000,000,000

mahaapadma, antya, antyam, nikharva

10,000,000,000,000

sha.nku

100.000.000.000.000

Jaladhi

1000.000.000.000.000

Antya

10.000.000.000.000.000

Madhya

100.000.000.000.000.000

Paraardha

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Dunia, Sejarah Indonesia

Indonesia: Tanah Air Kami

Nama “Indonesia” diambil dari dua kata dalam bahasa Yunani: ‘Indo’ yang berarti ‘India’, dan ‘nesos’ yang berarti ‘pulau’. Nama Bahasa Indonesia untuk Indonesia adalah ‘Tanah Air Kita’ atau Tanah dan Air kami.
Republik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dan mungkin adalah wilayah terakhir di bumi masih belum sepenuhnya dieksplorasi dan dipetakan. Hal ini diperkirakan memiliki sekitar 18.000 pulau, yang 6.000 telah diberi nama dan dihuni masih sedikit. Berdasarkan perkiraan, dibutuhkan waktu 48 tahun untuk menghabiskan hari di setiap pulau.
Terletak antara Indochina di utara dan Australia di selatan, kepulauan Indonesia membentang dari timur dan barat sepanjang khatulistiwa, dari India ke Samudera Pasifik, lebih dari 5.000 kilometer. Garis pantai, 100.000 kilometer, adalah terpanjang di dunia dan menawarkan keanekaragaman hayati laut terbesar di bumi. Ini adalah rumah bagi 25 persen terumbu karang dunia dan 3.500 dari 4.500 di dunia jenis ikan karang.
Hutan tropis yang indah dari pulau-pulau menyediakan perlindungan untuk badak bercula satu (Jawa); orangutan (Kalimantan dan Sumatera), yang satunya kera besar yang hidup secara alami di luar Afrika; kadal raksasa dikenal sebagai Komodo (Kepulauan Sunda Kecil) ; dan yang volans Draco (naga terbang), kadal yang meluncur dari pohon dan titik tinggi lainnya. Hutan Hujan Tropis Sumatera ditambahkan ke dalam Daftar Warisan Dunia pada tahun 2004.
Pulau-pulau utama Indonesia adalah Sumatera (473.606 km persegi), Sulawesi (189.216 km persegi), Papua (421.981 km persegi), Kalimantan (539.460 km persegi), Jawa (132.187 km persegi), dan pulau kecil tapi terkenal di dunia yaitu Pulau Bali. Indonesia yang wilayah berbatasan dengan Papua New Guinea, wilayah Kalimantan terletak di pulau Kalimantan berbatasan dengan Malaysia dan Brunei. Pulau-pulau Papua dan Kalimantan adalah dua pulau terbesar di dunia ini.
Bersama-sama, pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian dari Cincin Api yang mencakup sekitar tujuh puluh lima persen dari seluruh gunung berapi di dunia. (Tepi Cekungan Pasifik dikelilingi gunung berapi, dari Alaska melalui Amerika Serikat, Meksiko dan Amerika Selatan, kemudian ke Selandia Baru dan sampai ke Jepang dan Rusia.) Dari 400 gunung berapi yang berada di Indonesia, 150 dari mereka yang aktif , sekitar 75 persen dari seluruh gunung api aktif di planet ini.
Letusan Gunung Tambora, di Pulau Sumbawa, pada tahun 1815 adalah letusan gunung berapi yang paling kuat dalam sejarah. 1816 dikenal sebagai “Tahun tanpa musim panas” karena efek iklim global letusan.
Pada tahun 1883 pulau vulkanik Krakatau (bagian dari kepulauan Indonesia) dihancurkan oleh letusan gunung berapi, menyebabkan gelombang pasang yang menewaskan lebih dari tiga puluh ribu orang.
Pada tanggal 26 Desember 2004, aktivitas gunung berapi di lepas pantai Sumatera memicu gempa bumi bawah laut (antara 9,1 dan 9,3 pada skala Richter) di Samudera Hindia. Dikenal sebagai gempa bumi Sumatera-Andaman Besar, itu adalah gempa bumi terbesar kedua dalam sejarah, dan durasi (antara 8 dan 10 menit) adalah terpanjang yang pernah tercatat. Getaran yang tersebar di seluruh planet, memicu gempa bumi lain yang jauh seperti Alaska dan serangkaian tsunami yang menghancurkan sepanjang pantai daratan paling berbatasan dengan Samudera Hindia. Gelombang besar tsunami, hingga 30 meter, dibanjiri masyarakat pesisir di sebelas negara, menyebabkan banjir tak terhitung dan kehancuran, dan membunuh lebih dari 225.000 orang di Sumatera, Bangladesh, India, Malaysia, Maladewa, Myanmar, Thailand, Seychelles, Sri Lanka dan pantai timur Afrika (Kenya dan Somalia).
Penderitaan masyarakat yang terkena dampak banyak negara memicu respons kemanusiaan luas. Secara keseluruhan, masyarakat di seluruh dunia menyumbangkan lebih dari US $ 7 miliar dalam bantuan kemanusiaan.
Sumber:www.languagestudiesindonesia.com

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Indonesia

Shalahudin Al-Ayyubi (Yusuf bin Najmuddin)

Shalahuddin (Saladin) dan Richard si Hati Singa (Richard The Lionheart) adalah dua nama yang cenderung mendominasi Perang Salib. Keduanya tercatat dalam sejarah Abad Pertengahan sebagai pemimpin militer yang besar meskipun dampaknya terbatas pada Perang Salib Ketiga.
Shalahuddin Al-Ayubi atau Shalahuddin adalah seorang pemimpin Muslim yang besar. Nama aslinya adalah Yusuf bin Najmuddin. Dia bersatu dan memimpin dunia Muslim dan pada 1187, ia merebut kembali Yerusalem untuk orang Islam setelah mengalahkan Raja Yerusalem pada Pertempuran Hattin dekat Danau Galilea. Ketika tentaranya memasuki kota Yerusalem, mereka tidak diizinkan untuk membunuh rakyat sipil, merampok orang atau merusak kota. Shalahuddin lebih sukses, semakin ia terlihat oleh umat Islam bahwa ia sebagai pemimpin alami mereka.
Orang-orang Kristen dari Eropa Barat tercengang dengan keberhasilan Shalahuddin. Paus, Gregorius VIII, memerintahkan perang salib yang lain segera untuk mendapatkan kembali kota suci bagi orang Kristen. Ini adalah awal dari Perang Salib Ketiga. Hal ini dipimpin oleh Richard I (Richard si Hati Singa), Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman dan Raja Philip II dari Perancis. Ini adalah kemungkinan ketiga orang paling penting di Eropa Barat – seperti adalah pentingnya perang salib ini. Itu berlangsung 1189-1192.
Frederick tenggelam pada perjalanannya di seluruh Eropa. Dia berumur 70 tahun dan kematiannya terkejut pasukannya dan hanya sebagian kecil darinya terus ke Timur Tengah.
Richard, Philip dan laki-laki mereka bepergian dengan perahu. Mereka berhenti dalam perjalanan mereka di daerah Sisilia modern. Pada bulan Maret 1191, Philip kemudian berlayar ke pelabuhan Acre yang dikendalikan oleh kaum Muslim. Ini adalah pelabuhan penting untuk menangkap untuk orang-orang Kristen karena akan memungkinkan mereka untuk dengan mudah mendarat kapal mereka dan itu juga pelabuhan besar terdekat ke Yerusalem. Acre dikepung. Raja Philip bergabung dengan Richard.
Dia telah merebut Siprus pertama sebelum pindah ke Acre. Pada bulan Juli 1191, Acre itu jatuh ke orang Kristen. Namun, pengepungan telah memiliki pengaruh pada perkembangan Philip – ia kelelahan dan berangkat ke Perancis. Richard yang ditinggalkan oleh dirinya sendiri. Sementara mengendalikan Acre, orang Kristen dibantai 2000 tentara Muslim yang mereka telah ditangkap. Shalahuddin telah setuju untuk membayar tebusan bagi mereka tapi entah mengapa ada gangguan dalam proses pembayaran dan Richard memerintahkan eksekusi mereka.
Richard bertekad untuk sampai ke Yerusalem dan ia siap untuk mengambil Shalahuddin. Selatan berbaris ke Yerusalem adalah sangat sulit. Tentara Salib berada dekat ke pantai mungkin untuk memungkinkan kapal untuk memasok mereka. Ini juga sedikit lebih dingin dengan angin pantai. Terlepas dari ini, orang Kristen sangat menderita panas dan kekurangan air segar. Pada malam hari ketika Tentara Salib mencoba untuk beristirahat, mereka diganggu oleh tarantula. Gigitan mereka beracun dan sangat menyakitkan.
Kedua pihak bertempur di Perang Arsur pada bulan September 1191. Richard menang, tetapi ia menunda serangan terhadap Yerusalem karena ia tahu bahwa pasukannya perlu istirahat. Ia menghabiskan musim dingin tahun 1191-1192 di Jaffa dimana pasukannya kembali kekuatannya. Richard berbaris di Yerusalem pada bulan Juni 1192.
Namun, dengan sekarang bahkan Richard si Hati Singa itu menderita. Dia demam dan menariknya, musuhnya Shalahuddin untuk mengirimkan air segar dan buah segar. Shalahuddin juga mengirimkan salju beku untuk Tentara Salib untuk digunakan sebagai air dan buah segar. Mengapa Shalahuddin melakukan ini?
Ada dua alasan. Pertama, Shalahuddin adalah seorang Muslim yang ketat. Salah satu keyakinan utama Islam adalah bahwa umat Islam harus membantu mereka yang membutuhkan. Kedua, Shalahuddin bisa mengirim anak buahnya ke perkemahan Richard dengan pasokan dan memata-matai apa yang ada dalam hal tentara, peralatan dll
Apa yang mereka temukan adalah bahwa Richard hanya memiliki 2.000 tentara fit dan 50 ksatria cocok untuk digunakan dalam pertempuran. Dengan kekuatan kecil, Richard tidak bisa berharap untuk mengambil Yerusalem meskipun dia cukup dekat untuk melihat Kota Suci tersebut. Richard menyelenggarakan gencatan senjata dengan Shalahuddin – peziarah dari barat akan sekali lagi diperbolehkan untuk mengunjungi Yerusalem tanpa terganggu oleh Muslim. Baik Richard atau Shalahuddin sangat menyukai gencatan senjata namun kedua belah pihak lelah dan pada bulan Oktober 1192, Richard berlayar ke Eropa Barat tidak pernah kembali ke Tanah Suci.
Pada perjalanannya kembali ke Inggris, kapalnya sempat hancur dalam badai. Ia menemukan bahwa ia harus melakukan perjalanan melalui Austria. Negara ini dimiliki oleh musuh bebuyutan Richard – Duke Leopold dari Austria. Leopold awalnya menjadi anggota terkemuka dari Perang Salib Ketiga tetapi ia telah diejek oleh Richard yang tidak melakukan apapun untuk menghentikan anak buahnya membuat menyenangkan dari Leopold. Mereka menyebutnya “spons” karena dia minum begitu banyak. Leopold telah kehilangan banyak prestise dan sekarang dia punya kesempatan untuk membalas dendam dirinya sendiri. Richard dikhianati untuk Leopold yang menahannya ditawan selama dua tahun sampai tebusan dibayarkan untuknya. Richard tiba di rumah di 1194.
Richard dikenal sebagai “Hati Singa” oleh rakyatnya. Bahkan Muslim memujinya. Para Baha penulis muslim menulis tentang Richard saat Perang Salib Ketiga yang sedang terjadi:
…… Orang yang sangat kuat dari keberanian seorang raja …….. kebijaksanaan, keberanian dan energi ….. berani dan pintar.” (Sumber: http://www.historylearningsite.co.uk/Saladin.htm).

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Dunia

Pantheon: Rumah Para Dewa

Pantheon adalah sebuah bangunan yang dikonstruksikan pada tahun 27 SM sebagai kuil berbentuk bulat di pusat kota Roma. Pembangunan kuil ini diselesaikan pada masa pemerintahan Kaisar Hadrian (118 SM-28 M) pada tahun 126 M. Hadrian membangun kuil ini untuk penyembahan terhadap dewa-dewa Romawi. Nama Pantheon berasal dari bahasa Yunani yang berarti Rumah Semua Dewa. Kuil ini digunakan sebagai gereja dari tahun 609 sampai 1885 dan kemudian menjadi gereja dan tempat pemakaman bagi pahlawan nasional Italia. Tokoh-tokoh terkenal yang dimakamkan di sini adalah Raja Emmanuel I dan pelukis Renaissance, Raphael.
Struktur bangunan Pantheon ini telah digunakan selama lebih dari 1800 tahun. Pada awalnya didirikan untuk memuja 7 dewa Romawi dari 7 planet dengan gaya Greco-Romawi. Namanya berasal dari bahasa Yunani “Pantheion” yang berarti Rumah Semua Dewa. Pembangunannya diprakarsai oleh Marcus Vipsanius Agrippa, seorang jenderal Romawi menantu dari Kaisar Agustus dari tahun 27 – 25 SM untuk memperingati kemenangan pasukan Octavian dalam Pertempuran Actium tanggal 2 September 31 SM melawan pasukan Mark Anthony dan Cleopatra. Tidak diketahui siapa arsitek kuil ini, namun kemungkinan besar adalah Apollodorus dari Damaskus. Namun pada tahun 80 mengalami kebakaran dan menyisakan bangunan tiang portico (teras depan). Hadrianus memperbaiki Pantheon selama tahun 118-125 dan menambahkan bangunan berbentuk lingkaran (rotunda) dengan rancangan Septimius Severus dan Caracalla.
Kaisar Byzantine, Phocas menghibahkan Pantheon kepada Paus Boniface IV demi menyelamatkannya dari perusakan dan kehancuran. Pada tahun 609, kuil ini menjadi gereja Katolik Chiesa di Santa Maria Martyres (Gereja Santa Maria dan Para Martir) dan sering menjadi tempat diselenggarakannya misa. Selain itu, gereja ini mulai menjadi tempat pemakaman raja-raja dan orang terkenal yang masuk agama Kristen, antara lain pelukis Raphael (1520), Raja Victor Emmanuel I (1878), Raja Umberto I (1900) dan Ratu Margherita, Raja Victor Emmanuel II (1947), pelukis Annibale Caracci, arsitek Baldassare Purzzi dan sebagainya.
Pada masa kedudukan Paus Clement XI tahun 1700, altar gereja ditambahkan lewat desain Alessandro Spechi. Pada tahun 1691-1765, interior desain mulai dikerjakan oleh arsitek Giovanni Paolo Panini. (Sumber: wikipedia).

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Dunia

Sungai Nil

Herodotus, filsuf besar Yunani, menulis tentang Sungai Nil: “sungai meningkat dari dirinya sendiri, perairan ladang, dan kemudian tenggelam kembali lagi; setelah itu setiap orang yang menabur ladangnya dan menunggu panen.” Sejarawan besar Mesir juga menyebut Mesir adalah karunia Nil. Deskripsi ini akan membawa pembaca membayangkan Mesir sebagai surga yang besar di mana orang hanya duduk dan menunggu menabur dan panen perlu dilakukan. Tapi orang Mesir kuno lebih tahu. Terlalu tinggi banjir dari sungai mereka, dan desa-desa akan dihancurkan; terlalu rendah banjir, dan tanah itu akan berubah menjadi debu dan membawa kelaparan.
Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia, membentang utara sekitar 4.000 kilometer dari Afrika Timur ke Mediterania. Penelitian telah menunjukkan bahwa Sungai Nil secara bertahap mengubah lokasi dan ukuran selama jutaan tahun. Sungai Nil mengalir dari pegunungan di selatan ke Mediterania di utara. Mesir bepergian ke negeri-negeri lain akan mengomentari aliran “salah” dari sungai lainnya. Misalnya, teks Tuthmosis I di Nubia menggambarkan sungai Efrat yang besar sebagai “air terbalik yang berlangsung di hilir akan hulu.”
Bangsa Mesir kuno memiliki penghalang alami yang banyak. Ada padang pasir di sebelah timur dan barat Sungai Nil, dan pegunungan di selatan. Ini mengisolasi orang Mesir kuno dan memungkinkan mereka untuk mengembangkan budaya benar-benar khas.
Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia. Hal ini lebih dari 4000 mil panjang! Ini berbentuk seperti bunga teratai sehingga sering terlihat dalam seni Mesir kuno. Setiap musim semi, air akan lari gunung dan sungai Nil akan membanjiri. Seperti air banjir surut, tanah subur hitam kaya tertinggal. Mesir kuno menyebutnya tanah kaya Karunia Sungai Nil.
Tanah yang subur untuk tanaman tidak hanya hadiah sungai Nil. Sungai Nil Mesir kuno memberi banyak hadiah. Berkat Nil, orang-orang kuno memiliki air bersih untuk minum dan mandi. Sungai Nil yang didukung transportasi dan perdagangan. Hal ini memberikan bahan untuk membangun, untuk membuat kain untuk pakaian, dan bahkan untuk pembuatan kertas – terbuat dari papirus gulma liar, yang tumbuh di sepanjang tepi Sungai Nil.
Karena banjir tahunan sungai Nil, orang Mesir kuno menikmati standar hidup yang tinggi dibandingkan dengan peradaban kuno lainnya. Tanpa Nil, Mesir akan menjadi gurun.

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA, Sejarah Dunia