Difusi dan Inovasi Pendidikan

Inovasi
Secara umum, inovasi didefinisikan sebagai suatu ide, praktek atau obyek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru oleh seorang individu atau satu unit adopsi lain. Thompson dan Eveland (1967) mendefinisikan inovasi sama dengan teknologi, yaitu suatu desain yang digunakan untuk tindakan instrumental dalam rangka mengurangi ketidak teraturan suatu hubungan sebab akibat dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi, inovasi dapat dipandang sebagai suatu upaya untuk mencapai tujuan tertentu.
Fullan (1996) menerangkan bahwa tahun 1960-an adalah era dimana banyak inovasi-inovasi pendidikan kontemporer diadopsi, seperti matematika, kimia dan fisika baru, mesin belajar (teaching machine), pendidikan terbuka, pembelajaran individu, pengajaran secara team (team teaching) dan termasuk dalam hal ini adalah sistem belajar mandiri.
Difusi
Difusi didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu selama jangka waktu tertentu terhadap anggota suatu sistem sosial. Difusi dapat dikatakan juga sebagai suatu tipe komunikasi khusus dimana pesannya adalah ide baru. Disamping itu, difusi juga dapat diangap sebaai suatu jenis perubahan sosial yaitu suatu proses perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial. Jelas disini bahwa istilah difusi tidak terlepas dari kata inovasi. Karena tujuan utama proses difusi adalah diadopsinya suatu inovasi oleh anggota sistem sosial tertentu. Anggota sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi dan atau sub sistem.
Unsur-Unsur Difusi Inovasi
Proses difusi inovasi melibatkan empat unsur utama, meliputi 1) inovasi; 2) saluran komunikasi; 3) kurun waktu tertentu; dan 4) sistem sosial.
Alasan perlu adanya difusi dan inovasi pendidikan.
Masyarakat Indonesia terus berkembang sejalan dengan suksesnya pembangunan nasional. Namun demikian, perkembangan yang pesat, khususnya dalam bidang ekonomi belum sepenuhnya diiringi oleh pembangunan di dalam bidang pendidikan. Banyak inovasi pendidikan telah dicoba, namun berakhir secara tragis. Praktek pendidikan kita kembali kepada rutinisme dan prioritas. Pendidikan kita masih belum beranjak dari pemerataan. Namun demikian, dengan telah tercapainya WAJAR 6 tahun dan menginjak kepada pelaksanaan WAJAR 9 tahun, maka sudah pada waktunya apabila aspek kualitas pendidikan mendapatkan prioritas. Peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat berjalan tanpa adanya inovasi pendidikan. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang berdaya. Memberdayakan manusia adalah membuat manusia yang berkualitas. Kualitas tersebut sudah tentu semakin beragam dan semakin meningkat. Betapa pentingnya proses pendidikan dalam rangka memberdayakan makhluk manusia supaya dapat memilih dengan penuh tanggung jawab, bernalar, mengerti hak-haknya sebagai manusia tetapi juga kewajibannya sebagai manusia yang hidup bermasyarakat, baik sebagai masyarakat bangsa, maupun sebagai masyarakat dunia.
Ada beberapa konsep inovasi pendidikan yang harus diperhatikan. Inovasi adalah suatu hasil kerja. Tanpa bekerja, tanpa berbuat, tidak terjadi inovasi. Inovasi menuntut suatu keberanian untuk bertindak yang didukung oleh suatu pemikiran konseptual yang berencana dan tentunya dengan suatu harapan bahwa kegiatan kita akan menghasilkan sesuatu. Agar berhasil, inovasi harus berdiri atas kekuatan sendiri.
Kegiatannya meliputi disiplin belajar, disiplin guru, berpikir kreatif, dst.
1.    Disiplin belajar Kegiatan ini merupakan cara membelajarkan anak didik kita untuk belajar disiplin di dalam segala aspek kegiatan.
2.  Disiplin guru Meningkatkan disiplin guru di dalam rangka meningkatkan dedikasinya terhadap pendidikan. Disiplin guru ini tidak terlepas dari penghargaan terhadap profesi guru yang tampaknya sedang menurun.
3.    Berpikir kreatif Para siswa dididik untuk menghasilkan hal-hal yang baru, baik dari kondisi yang ada maupun dari kondisi yang diproyeksikan akan terjadi.
Selain itu, inovasi pendidikan dapat dilakukan dalam inovasi kurikulum. Inovasi kurikulum dilakukan untuk meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Misalnya, dengan menerapkan kurikulum muatan lokal di samping kurikulum nasional. Sekarang telah diterapkan kurikulum tingkat satuan penidikan (KTSP).

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Teknologi Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s