Monthly Archives: Mei 2011

Perjanjian London atau Traktat London: Akhir Kekuasaan Inggris Di Bengkulu

Kehadiran Inggris di Bengkulu berlangsung selama 140 tahun, yaitu dari tahun 1685 sampai dengan bulan Maret 1825, ketika seluruh kekuatan Inggris meninggalkan Bengkulu. Berakhirnya kehadiran Inggris di Bengkulu adalah disebabkan adanya perjanjian antara Raja Inggris dan Raja Belanda. Perjanjian ini oleh pihak Inggris disebut The Anglo-Dutch Treaty of 1824, sedangkan pihak Belanda menyebutnya sebagai Traktat London. Perjanjian ini mengatur pertukaran kekuasaan Inggris di Bengkulu dengan kekuasaan Belanda di Malaka dan Singapura (Singapura pada masa itu merupakan bagian dari kerajaan Melaka).

 Perjanjian ini dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 1824, di London, Antara Kerajaan Inggris Raya dan Kerajaan Belanda mentandatangani Perjanjian Inggris-Belanda 1824, yang juga dikenal dengan Perjanjian London atau Traktat London. Perjanjian ini ditujukan untuk mengatasi konflik yang bermunculan akibat pemberlakuan Perjanjian Inggris-Belanda 1814. Belanda diwakili oleh Hendrik Fagel dan Anton Reinhard Falck, sedangkan Inggris diwakili oleh George Canning dan Charles Watkins Williams Wynn.

Perjanjian ini menjelaskan, bahwa kedua negara diijinkan untuk tukar menukar wilayah pada British India, Ceylon (Sri Langka) dan Indonesia, berdasarkan kepada negara yang paling diinginkan, dengan pertimbangan masing-masing negara harus mematuhi peraturan yang ditetapkan secara lokal. antara lain :

  1. Pembatasan jumlah bayaran yang boleh dikenakan pada barang dan kapal dari negara lain.
  2. Tidak membuat perjanjian dengan negara bagian Timur yang tidak mengikutsertakan /membatasi perjanjian dagang dengan negara lain.
  3. Tidak menggunakan kekuatan militer dan sipil untuk menghambat perjanjian dagang.
  4. Melawan pembajakan dan tidak menyediakan tempat sembunyi atau perlindungan bagi pembajak atau mengijinkan penjualan dari barang-barang bajakan.
  5. Pejabat lokal masing-masing tidak dapat membuka kantor perwakilan baru di pulau-pulau Hindia Timur tanpa seijin dari pemerintah masing-masing di Eropa.

Pertimbangan-pertimbangan dalam perjanjian ini, mengikutsertakan :

  1. Belanda menyerahkan semua dari perusahaan/bangunan yang telah didirikan pada wilayah India dan hak yang berkaitan dengan mereka.
  2. Belanda menyerahkan kota dan benteng dari Malaka dan setuju untuk tidak membuka kantor perwakilan di semenanjung Melayu atau membuat perjanjian dengan penguasanya.
  3. Belanda menarik mundur oposisinya dari pendudukan pulau Singapura oleh Inggris.
  4. Inggris meminta untuk diberikan akses perdagangan dengan kepulauan Maluku, terutama dengan Ambon, Banda dan Ternate.
  5. Inggris menyerahkan pabriknya di Bengkulu (Fort Marlborough) dan seluruh kepemilikannya pada pulau Sumatra kepada Belanda dan tidak akan mendirikan kantor perwakilan di pulau Sumatra atau membuat perjanjian dengan penguasanya.
  6. Inggris menarik mundur oposisinya dari pendudukan pulau Billiton oleh Belanda.
  7. Inggris setuju untuk tidak mendirikan kantor perwakilan pada kepulauan Karimun atau pada pulau-pulau Batam, Bintan, Lingin, atau pulau-pulau lain yang terletak sebelah selatan dari selat Singapura ataumembuat perjanjian dengan penguasa-penguasa daerah.
  8. Semua serah terima dari kepemilikan dan bangunan yang didirikan terjadi pada tanggal 1 Maret 1825.

Termasuk penyerahan Jawa kembali kepada Belanda, seperti yang dijelaskan pada Convention on Java tanggal 24 Juni 1817. Hal ini diluar dari jumlah yang harus dibayarkan oleh Belanda sebesar 100.000 pounds sterling sebelum akhir tahun 1825.

Perjanjian disahkan pada tanggal 30 April 1824 oleh Inggris dan tanggal 2 Juni 1824 oleh pihak Belanda.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Sejarah Bengkulu

Benteng Marlborough: Dulu dan Sekarang

Benteng Marlborough dibangun pada 1713-1719 oleh East India Company (EIC), pada masa pemerintahan Gubernur Joseph Callet sebagai benteng Inggris. Benteng ini terletak di dekat pantai panjang indah Provinsi Bengkulu. Bangunan ini terdiri dari sebuah PENJARA, sebuah Penyimpanan Amunisi, dan perumahan tentara, ada juga terowongan mulai dari dalam melalui luar Castle. Benteng Marlborough merupakan benteng terbesar yang pernah dibuat oleh orang Inggris selama kolonialisme di Asia Tenggara.

Konstruksi bangunan benteng Marlborough memang sangat kuat dengan desain arsitektur Inggris abad ke-20 yang menunjukkan kehebatan dan kokoh. Bentuk bangunan benteng  yang menyerupai tubuh penyu sangat mengesankan adalah kekuatan dan kemuliaan. Rincian bangunan dengan rasa Eropa untuk mengesankan keberadaan suatu bangsa yang besar dan mulia pada saat itu. Dari berbagai peninggalan yang ditemukan di gedung kastil juga dapat diketahui bahwa pada saat itu bangunan ini juga berfungsi sebagai pusat berbagai kegiatan termasuk kantor, bahkan penjara.

FORT Marlborough dibangun pada kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. Benteng yang mengahadap selatan dan memiliki luas 44.100 meter persegi, Bentuk benteng menyerupai kura-kura dengan pintu utama dikelilingi parit luas dan tersambung dengan jembatan ke gerbang dalam. Menurut masyarakat sekitar, benteng ini memiliki pintu keluar bawah tanah.

Fort Marlborough adalah peninggalan terbesar Inggris terbesar di Indonesia, benteng ini dibangun demi kepentingan perdagangan yang ditugasi untuk menjamin kelancaran suplai lada bagi perusahaan dagang Inggris, East India Company, serta pengawasan jalur pelayaran dagang melalui Selat Sunda. Pada akhirnya Benteng berperan ganda yaitu sebagai markas pertahanan militer sekaligus kantor pusat perdagangan dan pemerintahan Inggris.

Bengkulu merupakan ibu kota wilayah presidensi (kumpulan wilayah residen) Inggris di pesisir barat Sumatera. Wilayah itu dikendalikan dari Benteng Marlborough. Inggris sebelumnya juga membangun benteng serupa dengan fungsi dan peran lebih besar di Madras India, yaitu Fort St George. Dari Madras inilah East India Company mengembangkan pengaruh ke Asia Pasifik, termasuk Bengkulu.

Fort Marlborough dihuni oleh pegawai sipil dan tentara Inggris. Dalam catatan British Library, Oriental and India Office Collections tahun 1792 terdapat 90 pegawai sipil dan militer tinggal dan bekerja dalam Benteng Marlborough. Para petinggi atau perwira senior tinggal dalam lingkungan benteng bersama keluarga. Benteng ini menyerupai hunian dalam kota kecil dengan tembok tebal. Seperti layaknya kehidupan bermasyarakat, catatan-catatan menyangkut perkawinan, pembaptisan, dan kematian “penduduk” benteng ini pun masih dapat tersimpan.

Desain dasar Benteng Marlborough berbentuk segi empat. Desain ini menyerupai kura-kura, ditandai dengan empat bagian bangunan menyudut seperti kaki, serta satu kelompok bangunan menyerupai bagian kepala kura-kura. Bagian atas bangunan ini tersambung melingkar menjadi pelataran penempatan meriam, sekaligus mempermudah mobilitas perpindahan meriam. Ciri lain benteng pertahanan ini adalah dua lapis dinding pertahanan, sehingga ketika dinding terdepan bisa ditembus lawan, pasukan bisa segera mundur dan melakukan pertahanan dari dinding kedua.

Desain tata ruang Benteng Marlborough mencerminkan keragaman aktivitas masyarakat. Kompleks bangunan ini 44.100,5 meter persegi, tetapi total bangunan dalam benteng hanya sekitar 20 persen. Bagian benteng selebihnya bersungsi sebagai ruang terbuka. Bangunan fisik Benteng Marlborough sangat kokoh, antara lain terbukti ketika gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter pada 4 Juni 2000 dan 7,9 skala Richter pada 13 September 2007 yang meluluhlantakkan ribuan bangunan gedung dan permukiman Bengkulu namun, benteng ini tak mengalami kerusakan berarti, padahal konstruksi benteng ini tidak menggunakan beton bertulang.

Pembangunan benteng tahap pertama selesai 1718 dengan gerbang utama benteng di sisi barat. Bagian bangunan menyerupai kepala kura-kura kemudian ditambahkan pada 1783. Dengan penambahan ini sistem pertahanan gerbang benteng menjadi berlapis. Kekokohan benteng tergambar dari ketebalan dinding bagian luar setinggi 8,65 meter dan ketebalan tiga meter. Sementara tebal dinding dalam sekitar 1,8 meter. Bahan bangunan antara lain batu karang, batu kali, dan bata dengan perekat campuran kapur, pasir, dan semen merah.

Untuk memasuki benteng dari gerbang utama, kita harus melewati dua jembatan yang menyeberangi parit-parit kering. Parit itu berkedalaman sekitar 1,8 meter dengan lebar 3,6 meter. Jembatan-jembatan kayu di atas parit kering itu aslinya tidak pernah permanen agar dapat diangkat dalam menghambat gerak musuh. Selepas gerbang pertama, kita akan menyusuri lorong pendek dengan langit-langit melengkung. Empat buah batu nisan besar tertempel pada salah satu sisi bangunan lengkung ini. Batu-batu nisan ini merupakan tugu peringatan kematian sejumlah petinggi benteng, antara lain Deputi Gubernur Inggris Richard Watts—meninggal pada 1705. Meskipun tugu peringatan berbahasa Inggris itu tertulisdalam huruf bergaya kuno, tetapi sebagian besar masih terbaca dengan jelas.

Keluar dari bangunan lengkung selepas pintu masuk ini, kita akan menyusuri alur jalan pada ruang terbuka menuju jembatan kedua. Di sisi selatan jalan itu berjajar tiga buah makam, satu di antaranya makam Residen Thomas Parr—terbunuh Desember 1807. Adanya pemakaman itu menunjukkan fungsi benteng menampung seluruh aktivitas penghuni sejak lahir hingga meninggal. Melalui jembatan kedua berketinggian 3,25 meter dari dasar parit di bawahnya, sampailah pada pintu gerbang yang dikenal sebagai the great gate (gerbang utama). Daun pintu kayu pada gerbang kedua ini masih utuh meskipun sudah berumur hampir 300 tahun. Daun pintu ini memakai jenis kayu kapur konon berasal dari Kalimantan.

Tiga ruangan kita jumpai di sebelah kiri begitu melewati the great gate dulu difungsikan sebagai kediaman para perwira. Ruangan-ruangan ini pada 1873 difngsikan sebagai gudang senjata. Ruang pertama menyerupai lorong sepanjang 13,5 meter dengan lebar sekitar lima meter. Di dalamnya terdapat tiga “anak ruangan” berukuran sekitar 1,5 meter x 4,5 meter. Ruang ini seakan menyerupai lemari beton tebal. Di ujung lorong terdapat pintu turun menuju ke ruang bawah bangunan benteng. Gelap dan lembab pada ruang-ruang bawah memberi kesan penyusuran bagian benteng ini berbau petualangan. Ruang bawah ini disebutkan berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta.

Pada sisi lain gerbang masuk, kita akan menemui ruangan dengan funsi ruang jaga utama maupun ruang penjaga benteng yang tidak sedang bertugas. Di bagian dalam, terdapat dua ruang tahanan militer. Pada salah satu bagian dinding ruang tahanan itu terlihat lukisan arang dan catatan dalam bahasa Belanda kuno. Tulisan diperkirakan buatan tahanan dalam benteng.

Di sepanjang sayap selatan Benteng Marlborough terdapat deretan ruangan barak tidur. Masing-masing ruang memiliki satu pintu menghadap ke halaman dalam benteng. Meskipun terbuat dari jeruji besi, pintu-pintu ini berdesain lengkung dan terkesan cantik. Desain lengkung juga terlihat pada bagian langit-langit ruangan. Kompleks perkantoran terdapat di sayap utara benteng. Sebelum tahun 1780-an, sisi utara benteng ini difungsikan menjadi ruang keluarga pejabat sipil senior serta tempat tinggal perwira lajang. Sementara gudang dan kediaman gubernur terdapat di bagian barat.

Pada zamannya, benteng ini dikelola oleh dewan pimpinan terdiri dari deputi gubernur sebagai kepala wilayah pendudukan, komandan benteng sebagai pemimpin militer, dibantu oleh dua pejabat. Pejabat tinggi lainnya adalah semacam kepala perdagangan (senior merchant). Pada 1792, tercatat 18 atase perdagangan berkantor di Fort Marlborough. Beberapa kepala perdagangan ini juga menjabat sebagai kepala wilayah atau residen sejumlah kawasan sepanjang pesisir barat Sumatera, antara lain Manna, Lais, Natal, Tapanuli, dan Krui. Pada 1792 tercatat sembilan orang juru tulis bekerja dan tinggal dalam benteng. Teknisi, petugas kesehatan, pemain organ, hingga tukang kayu pun menghuni benteng ini.

Di tengah benteng, terhampar halaman dalam berumput hijau dengan beberapa pepohonan teduh. Halaman dalam cukup luas ini berfungsi bagi beragam kegiatan militer pada masa itu, misalnya upacara dan latihan keterampilan. Di lapangan ini pula dibacakan keputusan pengadilan dan kesaksian eksekusi militer. Sementara bagian halaman teduh oleh pepohonan dengan pemandangan laut lepas, menjadi tempat bersantai. Jalan setapak menghubungkan gerbang utama bagian selatan dengan gerbang utara terdapat di tengah halaman. Pintu gerbang sisi utara ini pun disambungkan dengan jembatan kayu ke luar lingkungan benteng.

Dari atas dinding benteng atau bastion, teramati hamparan laut lepas. Untuk menaikkan meriam pada posisi tembak di bastion, dibangunlah beberapa bidang miring dari susunan bata di sudut-sudut benteng ini. Di bastion, kita juga dapat mengamati saluran etalase ruangan-ruangan seperti cerobong. Mulut cerobong itu diberi payung kerucut terbuat dari seng sehingga udara dapat bersirkulasi, namun terlindung dari curahan air. Menjelajahi benteng ini tidak akan lengkap tanpa menyusuri lorong-lorong di bawahnya. Lorong-lorong bawah tanah sempit dan gelap ini konon merupakan tempat penyimpanan senjata. Juga terdapat lorong bawah tanah yang menyambungkan benteng dengan jalan keluar tanpa melewati pintu-pintu gerbang.

Tinggalkan komentar

Filed under Sejarah Bengkulu

Bengkulu: Sejarah Singkat

Di masa lalu, sebuah kerajaan yang bernama selebar ada di daerah ini. Sebuah negara bawahan Banten, itu adalah sumber utama yang terakhir lada, cengkeh, pala dan kopi, komoditas perdagangan yang berkembang Kerajaan Jawa. Pada tanggal 12 Juli 1685, selebar menandatangani perjanjian dengan British East India Company, memberikan hak yang terakhir untuk membangun gudang dan benteng. Pertama, Inggris membangun Benteng York. Kemudian, satu sama lain muncul, yang terletak lebih ke utara. Dibangun pada tahun 1713-1719, ini benteng terakhir bernama Fort Marlborough. Itu adalah kursi kekuasaan Inggris dan pengaruh dalam bagian barat kepulauan sampai 1825, ketika berada di bawah ketentuan Perjanjian London, Inggris menyerahkan wilayah Belanda dalam pertukaran untuk orang lain, yang berakhir 139 tahun kekuasaan Inggris di Bengkulu.

Bengkulu telah digunakan untuk menjadi satu-satunya koloni Inggris di Asia Tenggara selama lebih dari 140 tahun. Ini didirikan sebagai sumber alternatif untuk merica, setelah Belanda mendapat memerintah Banten pada abad ke-17. Ini pos Inggris kecil sepanjang pantai dihuni rendah namun tidak pernah nilai banyak: pentingnya lada di pasar dunia dengan cepat turun dan Bengkulu terlalu jauh dari rute perdagangan utama untuk berarti apa-apa. Dari 1685-1825 buku-buku dari British East India Company laporan perdagangan sangat buruk, kebosanan dan kematian dini karena malaria.

Benteng York, basis Inggris pertama, didirikan pada tahun 1685, diikuti oleh pembangunan Benteng Marlborough dua kilometer ke depan di 1715. Inggris berpikir bahwa penduduk setempat adalah ‘malas’ dan itu biasa untuk menghukum para pemimpin mereka. Ketika William Dampier di Bengkulu pada tahun 1690, ia menemukan dua dari para pemimpin dirantai karena ‘mereka tidak membawa dalam jumlah dituntut merica ke Benteng’. protes luar pemerintah Inggris, bentuk hukuman itu umum dalam awal abad ke-19. Bengkulu terbangun dari apatis selama pemerintahan Raffles (1818 – 1824), tetapi pada tahun 1825 koloni dipindahkan ke Belanda, dalam perdagangan untuk pengakuan pengaruh Inggris di semenanjung Malaysia dan Singapura. Selama tinggal di Singapura, Raffles mulai menjelajahi laut, apa yang akhirnya berakhir di dasar Singapura. kenikmatan-Nya atas ekonomi booming koloni barunya dibayangi oleh fakta yang menyedihkan bahwa tiga dari empat orang anaknya meninggal di Bengkulu. Pengaruh Inggris tetap terbatas pada pesawat pesisir kecil. Belanda beranotasi pedalaman pegunungan di abad ke-19 setelah sejumlah ekspedisi militer. Sesaat sebelum pergantian abad ke-20 ke Belanda menemukan bahwa gunung-gunung dekat Bengkulu terkandung deposit emas yang luar biasa dan provinsi segera menjadi provinsi penghasil emas terbesar di Hindia Belanda.

Penduduk Bengkulu terdiri dari empat kelompok utama, Suku Rejang adalah orang gunung dan membentuk mayoritas. Mereka dibagi menjadi dua kelompok: Rejang Rejang dataran tinggi dan pantai, yang telah pindah ke dataran rendah barat. Di selatan Suku Serawai hidup, yang berhubungan dengan Pasemah di dataran tinggi sekitar Pageralam dan Gunung Dempo. Di ibukota, ada banyak orang Melayu. Provinsi Bengkulu telah didiami sejak masa pra-sejarah, yang dibuktikan dalam temuan alat-alat batu di daerah utara, dan penemuan konstruksi Megalit dan drum lama dari tipe Dongson di selatan. Pulau Enggano terisolasi hanya pantai selatan, hidup habitat lain kelompok. Untuk waktu yang lama Enggano dilindungi oleh pengaruh dari luar, karena keterpencilan mereka, tetapi akhirnya pocks dan penyakit lainnya, yang dibawa ke pulau dengan ekspedisi Barat pada akhir abad ke-19, memukul mereka. Sekitar akhir abad ke-19 itu adalah berusaha untuk membawa darah segar ke dalam kelompok, tapi itu tidak berhasil juga. Selama masa pemerintahan Soekarno, pulau sementara menjadi pulau penjara juga.

Tinggalkan komentar

Filed under Sejarah Bengkulu