Ontologi Filsafat Al Ghazali

Hakikat yang ada
Ontologi berasal dari bahasa yunani yaitu on (being) dan logos (logik). Ontologi adalah teori tentang yang ada dari sudut hakikatnya.
Menurut Kattsof, Ontologi merupakan dua bagian metafisika: Membicarakan yang ada dari sudut hakikatnya, membicarakan hubungan antar pelbagai bagian dari kenyataan dan cara kenyataan itu berubah, yakni menyangkut ketertiban dan tatanan kenyataan dan membahas azas – azas risional yang sudah ada. Ontologi berusaha untuk mengetahui esensi paling dalam yang ada.
Menurut Runes, ontologi sinonim dengan metafisika.

Hubungan antara ontologi dan epistemologi
Epistemologi filsafat al Ghazali terbadi menjadi 2 yaitu:
1.    Religious experience (pengalaman keagamaan)
2.    Nasionalisme kritis (logika deduktif)
Epistemologi memiliki hubungan dengan ontologi. Epistemologi adalah yang membentuk ontologi.

Hakikat Wujud (“ada”)
Menurut Al Ghazali, wujud (ada, being dalam arti tertentu (eksistensi), merupakan konsep dasar yang paling umum meliputi semua maujud (yang ada). Lain halnya dengan lapangan metafisika (ketuhanan), Al-Ghazali memberikan reaksi keras terhadap Neo-Platonisme Islam, menurutnya banyak sekali terdapat kesalahan filosof, karena mereka tidak teliti seperti halnya dalam lapangan logika dan matematika. Untuk itu Al-Ghazali mengencam secara langsung tokoh Neo-Platonisme musim (Al-Farabi dan Ibn Sina), dan secara tidak langsung kepada Aristoteles, guru mereka. Menurut Al-Ghazali sebagaimana dikemukakannya dalam bukunya Tahaful Al-Falasifah, para pemikir besar tersebut ingin menanggalkan keyakinan-keyakinan Islam dan mengabaikan dasar-dasar pemujaan dengan mengangap sebagai tidak berguna bagi pencapaian intelektual mereka. Al-Ghazali menghantam pendapat-pendapat filsafat Yunani diantaranya juga Ibn Sina c.s. dalam dua puluh masalah. Diantaranya yang terpenting ialah: Al-Ghazali meyerang dalil-dalil filsafat (Aristotoles) tentang azalinya alam dan dunia. Disini Al-Ghazali berpendapat bahwa alam (dunia) berasal dari tidak ada menjadi ada sebab diciptakan oleh Tuhan.
Al-Ghazali menyerang kaum filsafat (Aristoteles) tentang pastinya keabadian alam, ia berpendapat bahwa soal keabdian alam itu terserah kepada Tuhan semata-mata. Mungkin saja alam itu terus menerus tanpa akhir andai kata Tuhan menghendakinya. Akan tetapi, bukanlah suatu kepastian harus adanya keabadian alam disebabkan oleh dirinya sendiri diluar iradat Tuhan.
Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja, tetapi tidak menegetahui soal-soal yang kecil (juzizat) Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat semata-mata, dan mustahil ada penyelewengan dari hukum itu. Bagi
Al-Ghazali segala peristiwa yang seupa dengan hukum sebab dan akibat itu hanyalah kebiasaan (adat) semata-mata, dan bukan hukum kepastian. Dalam hal ini jelas Al-Ghazali menyokong pendapat Ijraraul-A’dat dari Al-Asy’ari.

Klasifikasi Wujud (“ada”)
Empat kategori “ada”
1.    Ada hakiki (zati)
2.    Ada dalam mental subjek yang mengetahui
3.    Ada dalam lafadz lisan
4.    Ada dalam tulisan

“Ada objektif” dan “ada subjektif”
a)    Al Ghazali membedakan antara “ada dalam realitas aktual (ada Objektif) dengan ada dalam konsep mental (ada subjektif)
b)    Ada objektif merupakan refleksi dari asumsi ontologis bahwa segala sesuatu mempunyai esensi
c)    Ada subjektif merupakan refleksi dari asumsi epistemologis bahwa esensi segala sesuatu itu dapat ditangkap manusia

Allah dan alam
Menurut konsep dualisme islami, ada dua realitas fundamental yaitu Allah dan selain Allah, yakni seluruh alam termasuk manusia dengan prinsip tauhid (mengesakan Tuhan).
Ontologi Ghazali merupakan sebuah kombinasi 3 unsur utama yaitu:
1.    Teologi Islam (kalam)
2.    Ontologi filsuf
3.    Teosofi sufi

Wujud Allah dalam alam
Menurut Al Ghazali, alam fisis tidak mempunyai wujud yang sejati seperti yang dimiliki alam malaikut, yang nisbah antara keduanya ibarat bayang-bayang dengan materi, sehingga alam fisis adalah alam tiruan atau alam khayal.
Ada tiga jenis kelompok manusia tentang wujud Allah:
1.    Penyangkal (Jahidun) adalah kaum monistik yang hanya mengakui alam, tidak mengakui adanya Tuhan
2.    Kaum Dualis adalah kaum yang mengakui keduanya dan menyetarakan keluarga (syirik)
3.    Penganut tauhid murni adalah yang hanya melihat satu maujud yaitu Allah.

Hukum Kausalitas
Hukum kausalitas menurut Al Ghazali terbagi menjadi 2 yaitu:
1.    Al Ghazali menganut kausalisme atau determinisme kausal.
2.    Al Ghazali menolak hukum kausalitas sebagai hukum alam dan keabsolutanya
3.    Ada empat teori dari Al Ghazali:
a)    Teori Takdir
b)    Teori Asy’ariah
c)    Teori Mu’tazilah
d)    Teori Filosof
Tekanan pokok dari keempat teori tersebut adalah menolak prinsip bahwa alam dan fenomena-fenomenanya diatur oleh hukum alam yang dibuatnya sendiri, dan mempertahankan prinsip bahwa alam dan fenomena-fenomenanya diatur oleh Allah penciptanya.
Al Ghazali  mengakui  adanya empat realistis:
1.    Adanya hukum kausalitas natural
2.    Adanya kausalitas moral
3.    Adanya para malaikat
Adanya intervensi Allah dalam memberikan hidayah, rusydm tasdid, dan ta’yid
Konsep sebab-akibat al-Ghazzali menjadi popular karena ia merupakan bahagian (masalah ke-17) dalam Tahafut al-Falasifah. Di situ ia menyatakan bahwa “Apa yang selama ini dianggap hubungan sebab dan akibat bagi kami adalah tidak pasti (ghayr dharuri).” Karena penolakannya terhadap kepastian hukum sebab-akibat itu maka Ibn Rushd menuduhnya telah menolak ilmu pengetahuan, sebab katanya sumber ilmu pengetahuan adalah daripada konsep sebab-akibat.
Kritikan Ibn Rusyd terhadap Tahafut al-Falasifah dalam Tahafut al-Tahafutkhususnya dalam soal sebab-akibat dipersetujui oleh beberapa cendekiawan Muslim kontemporer. Makanya al-Ghazzali pun dituduh sebagai pembawa kemunduran sains dan falsafah dalam Islam. Padahal disertasi kedoktoran Michael Marmura telah membuktikan bahwa Ibn Rushd salah faham terhadap al-Ghazzali. Malangnya kesalah fahaman ini dipakai lagi untuk menyimpulkan bahwa pemikiran Ibn Rushd di ambil Barat sehingga Barat menjadi maju, sedangkan pemikiran al-Ghazzali diambil oleh umat Islam sehingga mundur.
Kenyataannya, pemikiran al-Ghazzali yang menyatakan bahwa hukum sebab-akibat itu tidak pasti, justeru diambil dan dikembangkan oleh Malebranche dan David Hume di Barat. Sedangkan metod skeptiknya serta prinsip-prinsip epistemologinya diubah suai oleh Descartes. Sementara itu pemikiran Ibn Rushd yang diambil Barat adalah teori kebenaran gandanya. Teorinya itu menurut teolog neo-Thomist, Etienne Gilson, menjadi akar rasionalisme di Barat. Tapi pada saat yang sama dipakai para deis untuk menentang wahyu, dan memberi sumbangan kepada lahirnya sekularisme.
Berbeda dari Ibn Rusyd, al-Ghazzali membawa konsep integrasi fizika dan metafizika, sains dan teologi atau agama dan sains. Ini jika konsep al-Ghazzali itu difahami dengan ‘paradigma’ yang berbeda dari Ibn Rushd, tapi bukan dengan teori paradigma Thomas Kuhn. Paradigma atau framework untuk memahami konsep sebab-akibat al-Ghazzali teori worldview (pandangan hidup atau pandangan alam).
Framework ini telah diaplikasikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam konsep Islamisasinya atau oleh Prof. Alparslan Acikgenc dalam memahami konsep sains Islam. Di Barat, konsep ini digunakan Thomas F Wall untuk kajian falsafah, dan Ninian Smart untuk perbandingan agama. Iaitu dengan mengkaji suatu konsep dalam kaitannya dengan keseluruhan konsep yang terstruktur.
Dengan framework ini posisi al-Ghazzali menjadi jelas, bahawa ia melihat sebab-akibat pada realiti fizik sebagai sebahagian daripada realiti metafizik. Bahkan realiti makhluk yang relatif itu tergantung kepada realiti metafizik yang mutlak. Al-Ghazzali membela konsep Tuhan Maha Pencipta. Proses penciptaan-Nya tertuang dalam Asma al-Husna, iaitu al-Khaliq, al-Bari, al-Musawwir. Kerana itu sebab-akibat pada alam semesta ini, meskipun telah ditentukan sejak awal penciptaannya, ia tetap tergantung pada Kehendak Tuhan dan tidak berjalan sendiri secara alami. Ini berseberangan dengan para failasuf yang membela konsep limpahan, di mana hubungan Tuhan-makhluk bukan dengan perantaraan aksi (fi’il) Tuhan tapi melalui proses limpahan (emanation) yang pasti (necessary) dan hukum sebab-akibat pada fenomena alam inipun akhirnya berjalan sendiri secara pasti.
Bantahan al-Ghazzali terhadap kepastian hukum sebab-akibat bukan tanpa alasan. Sebab kepastian bentuk hubungan (wajh al-iqtiran) sebab-akibat itu tidak dapat dibuktikan secara empiris. Yang ada hanya pengalaman bahwa setiap ada sebab biasanya diikuti oleh akibat (nafs al-iqtiran). Inilah yang ditiru oleh David Hume. Tapi, berbeda dari Hume, al-Ghazzali menganggap apa yang kita saksikan sebagai kebiasaan (‘adah) sebab-akibat ini tunduk pada kehendak Allah.
Posisi al-Ghazzali dalam masalah ini berada di antara mutakallimun danfalasifah. Al-Ghazzali menggunakan teori jawhar (atom) para mutakallimun(Asy’ariyyah dan Mu’tazilah). Segala benda dan makhluk di dunia ini terdiri dari substansi (jawhar) dan aksidensi (‘ard). Dan semua itu diciptakan Allah secara terus menerus (dawam al-khalq wa al-in’idam). Tapi ia tidak sependapat denganmutakallimun yang menolak adanya sebab-akibat. Al-Ghazzali justeru sepakat dengan falasifah bahwa di alam semesta ini terdapat hukum sebab-akibat. Hanya saja ia tidak sependapat dengan falasifah yang mengatakan bahwa hubungan sebab dan akibat dalam alam semesta ini adalah pasti. Di mana ada sebab pasti di situ akan ada akibat. Setiap api (sebab) pasti membakar (akibat). Bagi al-Ghazzali ini akan membatasi kekuasaan Tuhan. Ertinya dengan menerapkan konsep Aristotle ini maka hubungan antara alam semesta dengan Tuhan menjadi tidak langsung. Tuhan tidak mempunyai peranan langsung dalam mengatur kejadian alam yang berupa sebab akibat ini. Dengan teori ini bererti hukum-hukum alam ini berjalan sendiri tanpa peranan langsung Tuhan.
Pandangan falasifah sejalan atau bahkan dapat dikatakan berasal dari konsep limpahan di mana Tuhan sebagai Sebab Pertama dan Makhluk sebagai akibat berkaitan secara pasti. Dari Penyebab Pertama ke akal pertama hingga akal ke sepuluh merupakan kaitan serial yang pasti (necessary). Namun, dalam teori ini akhirnya Tuhan tidak lagi berkaitan langsung dengan dunia material, termasuk dalam menentukan hubungan sebab-akibat.
Kajian tentang perdebatan al-Ghazzali dan para falasifah ini tidak dapat didekati dalam perspektif jadali. Ia lebih tepat didekati dengan teori atau framework worldview. Dengan menggunakan falasifah ini, konsep sebab-akibat al-Ghazzali ditelusuri dari konsepnya tentang Tuhan, yang merupakan realiti Mutlak, konsep alam, konsep manusia dan konsep ilmu. Kesemuanya itu diperlukan sebagai matriks perbedaan.
Dari matrik sini maka dapat diketahui bahawa dalam konsep al-Ghazzali sebab-akibat di dalam realiti fizik dilihat dalam kaitan dengan realiti metafizik. Bahkan sebab-akibat di dunia fizik sebagai bahagian daripada sebab-akibat dalam realiti metafizika. Jika demikian maka ilmu pengetahuan tentang fenomena fizik yang empiris tidak bisa dilepaskan dari pengetahuan metafizik. Ini bererti bahwa sains merupakan sebahagian daripada teologi. Inilah landasan dari teori sebab-akibat al-Ghazzali yang secara diametrikal bertentangan dengan pandangan sains Barat modenn yang terpisah dari metafizika (teologi).
Tapi dapatkah kita memperoleh pengetahuan dari hukum kausalitas yang mungkin dikaitkan dengan realiti metafizik. Menurut al-Ghazzali dapat, sebab ia memiliki prinsip integrasi bahwa setiap ilmu pengetahuan agama adalah rasional dan setiap pengetahuan rasional adalah bersifat spiritual. Dalam proses epistemologinya ia menggunakan metod demonstrasi (al-burhan) para filsuf yang ia modifikasi agar sejalan dengan prinsip-prinsip sebab-akibatnya. Walhasil, pengetahuan yang diperoleh daripada sebab-akibat dalam fenomena alam itu tidak pasti (daruri/necessary), tapi hanya sebatas “tentu” (certain). Jadi tuduhan Ibn Rushd bahwa al-Ghazzali menolak ilmu pengetahuan ternyata tidak benar.
Tesis yang pada mulanya di bawah bimbingan Prof. Syed Muhamman Naquib al-Attas ini diteruskan oleh Prof Dr Cemil Ackdogan, pakar sains Islam asal Turki. Tesis ini seperti harapan penulisnya, dimaksudkan untuk memberi sumbangan awal bagi proses Islamisasi sains kontemporari.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Teknologi Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s