Bentuk-Bentuk Motivasi dan Penggunaan Metode yang Bervariasi dalam Belajar

Walker (1967) dalam bukunya Conditioning and Instrumental Learning mengatakan: “Perubahan-perubahan yang dipelajari biasanya memberi hasil yang baik bilamana orang atau individu mempunyai motivasi untuk melakukannya; dan latihan kadang-kadang menghasilkan perubahan-perubahan dalam motivasi yang mengakibatkan perubahan-perubahan dalam prestasi.

Perubahan suatu motivasi akan merubah pula wujud, bentuk, dan hasil belajar. Ada tidaknya motivasi seorang individu untuk belajar sangat berpengaruh dalam proses aktivitas belajar itu sendiri.

Motivasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan situasi. Dalam bahasan ini, motivasi dimaksudkan untuk bidang pendidikan khususnya untuk kegiatan belajar.

Thomas M. Risk memberikan pengertian motivasi sebagai berikut: motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan ke arah tujuan-tujuan belajar.

Kemudian Prof. S. Nasution mengemukakan: motivasi peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan motivasi dalam diri peserta didik secara secara efektif. Keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya penyediaan motivasi atau dorongan.

Beberapa kesukaran yang dialami oleh seorang guru untuk memotivasi peserta didik, misalnya:

  1. Realitas bahwa guru belum memahami sepenuhnya akan motif.
  2. Motif itu sendiri bersifat perseorangan.
  3. Tida ada alat, metode, atau teknik tertentu yang dapat memotivasi peserta didik dengan cara yang sama atau dengan hasil yang sama.

Sebaiknya guru menyadari fungsi motivasi itu sebagai proses, yang memiliki fungsi berikut ini:

  1. Memberi semangat dan mengaktifkan peserta didik supaya tetap berminat dan siaga.
  2. Memusatkan perhatian peserta didik pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar.
  3. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang.

Beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi adalah melalui cara yang belajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, memberi kesempatan peserta didik untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian peserta didik, seperti gambar, foto, diagram, dan sebagainya.

Seorang individu akan terdorong melakukan sesuatu bila merasakan ada kebutuhan. Kebutuhan seseorang itu selalu berubah-ubah selama hidupnya. Sesuatu yang menarik dan diinginkannya pada suatu waktu, tidak akan lagi diacuhkannya pada waktu lain. Karena itu motif harus dipandang sebagai sesuatu yang dinamis.

Clifford T. Morgan memandang bahwa anak (individu) memiliki kebutuhan: untuk berbuat sesuatu demi kegiatan itu sendiri, menyenangkan hati orang lain, berprestasi atau mencapai hasil, dan mengatasi kesulitan. Ada dua kemungkinan bagi peserta didik yang memotivasi keterlibatanya dalam aktivitas pengajaran/belajar yaitu: karena motivasi timbul dari dalam dirinya sendiri dan karena motivasi yang timbul dari luar dirinya.

Kebutuhan keterlibatan dalam pengajaran mendorong timbulnya motivasi dari dalam dirinya sendiri (motivasi intrinsik atau endogen), sedangkan stimulasi dari guru atau dari lingkungan belajar mendorong timbulnya motivasi dari luar (motivasi ekstrinsik atau eksogen). Pada motivasi intrinsik, peserta didik belajar, karena belajar itu sendiri dipandang bermakna bagi dirinya. Tujuan yang ingin dicapai terletak dalam perbuatan belajar itu sendiri (menambah pengetahua, keterampilan).

Pada motivasi ekstrinsik, peserta didik belajar bukan karena dapat memberikan makna baginya, melainkan karena yang baik, hadiah penghargaan, atau menghindari hukuman/celaan. Tujuan yang ingin dicapai terletak di luar perbuatan belajar itu sendiri. Maka pujian terhadap seorang peserta didik yang menunjukkan prestasi belajar merupakan salah satu upaya menumbuhkan motivasi dari luar peserta didik.

Prof. S. Nasution mengatakan bahwa motif atau penyebab peserta didik belajar ada 2 hal yaitu:

  1. Ia belajar karena didorong oleh keinginan untuk mengetahuinya. Dalam belajar terkandung tujuan untuk menambah pengetahuan.
  2. Ia belajar supaya mendapat angka yang baik, naik kelas, mendapat ijazah, dan sebagainya. Tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, tidak terkandung dalam perbuatan belajar.

Motivasi ekstrinsik sangat berkaitan erat dengan konsep reinforcement atau penguatan. Ada dua macam reinforcement yaitu:

  1. Reinforcement positif, sesuatu yang memperkuat hubungan stimulus-respon atau sesuatu yang dapat memperbesar kemungkinan timbulnya sesuatu respon.
  2. Reinforcement negatif, sesuatu yang dapat memperlemah timbulnya respon atau memperkecil kemungkinan hubungan stimulus-respon.

Dan reinforcement sendiri erat hubungannya dengan hadiah, hukuman dan sebagainya. Untuk memperbesar peranan peserta didik dalam aktivitas pengajaran/belajar, maka reinforcement (penguatan) yang diberikan oleh seorang guru sangat diperlukan. Individu akan terus berupaya meningkatkan prestasinya, jika ia memperoleh motivasi dari luar berupa reinforcement positif.

Berkaitan dengan upaya guru memotivasi peserta didik sebenarnya tidak ada langkah-langkah atau prosedur yang standar. Dibawah ini ada beberapa prinsip dan prosedur yang perlu mendapat perhatian agar tercapai perbaikan-perbaikan dalam motivasi, antara lain:

  1. Peserta didik ingin bekerja dan akan bekerja keras. Ia berminat terhadap sesuatu. Ini berarti bahwa hasil belajar akan lebih baik jika peserta didik dibangkitkan minatnya antara lain dengan cara:
  2. Tetapkanlah tujuan-tujuan yang terbatas dan pantas serta tugas-tugas yang terbatas, jelas dan wajar.
  3. Usahakanlah agar peserta didik selalu mendapat informasi tentang kemajuan dan hasil-hasil yang dicapainya, janganlah menganggap kenaikan kelas sebagai alat motivasi yang utama. Pengetahuan mengenai kemajuan dan hasil belajar itu akan memperbesar kegiatan belajar dan memperbesar minat.
  4. Hadiah biasanya menghasilkan sebuah/sesuatu yang lebih baik dari pada hukuman. Kendatipun demikian adakalanya beberapa jenis hukuman dapat digunakan.
  5. Menfaatkanlah cita-cita, sikap-sikap dan rasa ingin tahu peserta didik.
  6. Setiap individu ingin sukses berpretasi dalam usahanya. Dan kalau sukses tecapai akan menambah kepercayaan kepada diri sendiri, jika ia tidak sukses akan berupaya bagaimana sukses itu dapat dicapai.
  7. Suasana yang menggembirakan dan kelas yang menyenangkan akan mendorong partisipasi peserta didik, sehingga proses pengajaran berlangsung dengan baik, peserta didik akan menyenangi sekolah, dan jika peserta didik sedang senang dengan sekolah, hasil belajar akan meningkat.
  8. Motivasi adalah alat pengajaran, bukan tujuan, dan untuk kesempurnaannya memerlukan perhatian terhadap setiap individu.
  9. Pada peserta didik disarankan supaya dapat memotivasi dirinya sendiri sehingga timbul usaha yang tinggi dalam belajar.

Daftar Pustaka
Nana Sudjana. (2000). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
R. Ibrahim dan Nana Syaodih.S. (1996). Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Teknologi Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s