Monthly Archives: Januari 2011

Dasar-Dasar Penelitian dalam Sejarah

BUKTI DAN FAKTA SEJARAH

Dalam usaha penulisan sejarah, haruslah disusun berdasarkan bukti yang berupa peninggalan-peninggalan dari perbuatan manusia di masa lampau. Dari bukti ini disusun fakta yang merupakan pengungkapan tentang suatu keadaan atau peristiwa sejarah. Peninggalan-peninggalan manusia dari masa lampau disebut sebagai sumber sejarah.

Sumber Tertulis, Contoh: prasasti, kronik, babad, hikayat, surat-surat, laporan, notulen rapat.

Sumber Benda (Artefak), Contoh: Fosil, senjata, peralatan hidup, perhiasan, prasasti, candi, stupa, foto, patung, nisan dan bangunan.

Sumber Lisan, Sumber lisan adalah keterangan langsung dari pelaku atau saksi sejarah. Misal: saksi sejarah yang masih hidup dari zaman    pendudukan Jepang, awal kemerdekaan, peristiwa G 30 S/PKI.

Sumber Rekaman, Sumber rekaman berupa baik rekaman kaset audio maupun rekaman kaset video. Misal: rekaman peristiwa sekitar proklamasi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan bagi seorang peneliti sejarah sehubungan dengan sumber-sumber sejarah adalah:

  • Reliability (terpercayanya sumber)
  • Credibility (kuatnya sumber)
  • Validity (sahihnya sumber)

 Berdasarkan urutan penyampaiannya, sumber sejarah dibagi dalam beberapa jenis sebagai berikut:

Sumber Primer (Sumber Pertama), Yaitu peninggalan asli sejarah, seperti: prasasti, kronik, piagam, candi yang benar-benar berasal dari zamannya.

Sumber Sekunder (Sumber Kedua), Adalah benda-benda tiruan dari benda aslinya atau sumber-sumber kepustakaan sebagai hasil penelitian ahli-ahli sejarah, seperti: prasasti tinulad (tiruan), laporan dan terjemahan kitab-kitab kuno.

Sumber Tersier (Sumber Ketiga), Yaitu berupa buku-buku sejarah yang disusun berdasarkan laporan penelitian ahli sejarah tanpa melakukan penelitian langsung.

ARTEFAK, FAKTA SOSIAL DAN FAKTA MENTAL

Artefak (Artifact)

Yaitu fakta-fakta yang merupakan peninggalan sejarah berupa benda-benda. Misalnya: arsitektur, senjata, peralatan hidup, arca, pecahan gerabah, mata uang reruntuhan, naskah, buku, potret dan perangko.

Fakta Sosial (Sociofact)

Adalah perilaku individu atau kelompok dalam kondisi sosial yang berkembang pada suatu masyarakat pada zaman tertentu. Di dalamnya juga menyangkut proses sosial, struktur sosial, lembaga-lembaga sosial. Misalnya: upacara-upacara tradisional, adat-istiadat, kerja paksa, kemiskinan, perbandingan kekerasan, kriminalitas, kesatriaan, pertumbuhan penduduk, migrasi dan urbanisasi.

Contoh:

  • Cerita roman: Serat Centini, Serat Pranacitra, Serat Riyanta.
  • Bahan dokumenter (surat-surat pribadi, catatan, buku harian): kumpulan surat R.A. Kartini yang terkumpul dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Fakta Mental (Mentifact)

Adalah keseluruhan dari tatanan yang berkembang di masyarakat pada suatu zaman menjadi penggerak sejarah yang meliputi: konsep-konsep, ide-ide, gagasan, paham, opini, semangat, ideologi, aspirasi, inspirasi dan sebagainya.

Dengan berkembangnya sejarah lisan, maka sejarah tidak hanya terbatas pada sumber-sumber tertulis (dokumen), melainkan juga mencakup sumber-sumber lisan. Tradisi lisan merupakan bagian dari sumber lisan. Bahan-bahan dari tradisi lisan: cerita rakyat, mitos, folklore, dan folksong.

Contoh:

–       Tokoh Nyi Roro Kidul dalam Babad Tanah Jawi.

–       Autobiografi.

BENTUK-BENTUK PENELITIAN SEJARAH

Penelitian Lapangan

Dalam melakukan penelitian lapangan seorang sejarawan dating ke tempat terjadinya peristiwa bersejarah atau ke tempat ditemukannya peninggalan-peninggalan bersejarah. Tempat ditemukannya benda-benda bersejarah disebut situs.

Apabila benda-benda bersejarah tersebut masih terpendam di dalam tanah, maka peneliti sejarah harus melakukan penggalian (ekskavasi). Jika seorang peneliti harus mendapatkan keterangan langsung dari pelaku atau saksi sejarah yang masih hidup sebagai sumber lisan, maka peneliti sejarah bisa melakukan metode wawancara (interview).

Setelah artefak berhasil diangkat dari dalam tanah, peneliti sejarah kemudian melakukan pendataan lalu identifikasi dan deskripsi terhadap penemuan-penemuannya tersebut. Jika dirasa perlu maka benda-benda sebpenemuan itu akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan penelitian yang lebih cermat.

Penelitian Kepustakaan

Penelitian kepustakaan disebut juga penelitian dokumenter. Dalam melakukan penelitian kepustakaan seorang peneliti sejarah memfokuskan perhatiannya untuk memperoleh data-data tertulis (dokumen) yang disimpan di museum atau perpustakaan seperti: kronik (berita) Cina, kitab-kitab kuno, arsip-arsip VOC, surat kabar dari zaman awal kemerdekaan, autobiografi, naskah pidato, rekaman video, dan sebagainya.

Untuk mendapatkan informasi yang benar dari sumber-sumber sejarah yang ada, maka seorang peneliti dapat melakukan studi komparatif, yaitu membandingkan sumber yang satu dengan sumber lain tentang suatu hal.

PENULISAN KEMBALI PERISTIWA MASA LALU

Empat tahapan dalam melakukan penulisan sejarah kembali masa lampau, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi.

Heuristik, Berasal dari bahasa Yunani, heurisken, yang berarti menemukan. Heuristik adalah usaha untuk mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah baik sumber benda, sumber tulisan, maupun sumber lisan.

Verifikasi, Adalah pengujian atau penelitian, baik dari segi kebenaran materi atau isi maupun keaslian dari sumber-sumber yang dalam ilmu sejarah disebut kritik.

  • Kritik intern, Adalah kritik terhadap isi dari suatu peninggalan sejarah, seperti isi prasasti, isi kitab kuno, isi dokumen.
  • Kritik ekstern, Adalah kritik terhadap keaslian dari sumber-sumber sejarah. Kritik ekstern melalui beberapa cara:

          Tipologi, yaitu penentuan ketuaan berdasarkan bentuk (tipe) benda peninggalan tersebut

          Stratikasi, yaitu penentuan umur relative suatu benda berdasarkan lapisan tanah. 

          Kimiawi, yaitu penentuan ketuaan suatu peninggalan berdasarkan unsur-unsur kimia pada benda tersebut.

Interpretasi

Pada tahap ini penulis sejarah melakukan penafsiran (penafsiran) terhadap sumber-sumber-sumber sejarah yang telah terpilih sebagai bukti penelitiannya 

Historiografi

Pada tahap terakhir ini sejarawan melakukan penyusunan kisah sejarah sesuai norma-norma dalam disiplin ilmu sejarah. Diantaranya yang paling penting penyusunan tersebut haruslah kronologis dan objektif.

Kadar subjektivitas dalam penulisan sejarah juga ditentukan oleh beberapa faktor:

  1. Sikap berat sebelah pribadi
  2. Prasangka kelompok
  3. Pandangan hidup yang berbeda tentang penggerak sejarah

PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENELITIAN SEJARAH LISAN

Sejarah lisan telah berkembang sejak lama:

–     Herodotus, sejarawan Yunani pertama, telah mengembara ke tempat-tempat yang jauh untuk mengumpulkan bahan-bahan sejarah lisan.

–     Thucydides, 2400 tahun silam, telah menggunakan kisah kesaksian langsung para prajurit yang ikut dalam “Perang Peloponesus”.

–     Di Nusantara, para penulis hikayat juga menggunakan metode lisan untuk memperoleh data.

James Morison lebih menyukai pemakaian penelitian lisan daripada sejarah lisan. Menurut James Morison, penelitian lisan adalah pengumpulan bahan-bahan melalui perbincangan atau wawancara dengan satu orang atau lebih mengenai satu masalah yang sedang dipelajari oleh pewawancara.

Sejarah lisan memiliki kelebihan antara lain:

  1. Pengumpulan data dengan komunikasi dua arah
  2. Penulisan sejarah menjadi lebih demokrasi

Kekurangan sejarah lisan:

  1. Subjektivitas yang sangat tinggi
  2. Terbatasnya daya ingat seorang pelaku atau saksi sejarah terhadap suatu peristiwa.

 JENIS-JENIS SEJARAH

Berdasarkan cakupan wilayah pembahasan Berdasarkan tingkat kekunoan Berdasarkan tema Berdasarkan wilayah kajian
Sejarah duniaSejarah nasionalSejarah lokal Sejarah SebelumMengenal TulisanSejarah Klasik

Sejarah Modern

Sejarah Kontemporer

Sejarah kebudayanSejarah EkonomiSejarah Hukum

Sejarah Telekomunikasi

Sejarah Militer

Sejarah Agama

Sejarah Agraria

Sejarah Maritim

Sejarah Tata Negara

Sejarah Diplomasi

Sejarah Sosial

Sejarah Mentalis

Sejarah EropaSejarah AfrikaSejarah Asia

Sejarah Amerika

Sejarah Australia

Sejarah Pasifik.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Materi Sejarah SMA

Bentuk-Bentuk Motivasi dan Penggunaan Metode yang Bervariasi dalam Belajar

Walker (1967) dalam bukunya Conditioning and Instrumental Learning mengatakan: “Perubahan-perubahan yang dipelajari biasanya memberi hasil yang baik bilamana orang atau individu mempunyai motivasi untuk melakukannya; dan latihan kadang-kadang menghasilkan perubahan-perubahan dalam motivasi yang mengakibatkan perubahan-perubahan dalam prestasi.

Perubahan suatu motivasi akan merubah pula wujud, bentuk, dan hasil belajar. Ada tidaknya motivasi seorang individu untuk belajar sangat berpengaruh dalam proses aktivitas belajar itu sendiri.

Motivasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan situasi. Dalam bahasan ini, motivasi dimaksudkan untuk bidang pendidikan khususnya untuk kegiatan belajar.

Thomas M. Risk memberikan pengertian motivasi sebagai berikut: motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan ke arah tujuan-tujuan belajar.

Kemudian Prof. S. Nasution mengemukakan: motivasi peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan motivasi dalam diri peserta didik secara secara efektif. Keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya penyediaan motivasi atau dorongan.

Beberapa kesukaran yang dialami oleh seorang guru untuk memotivasi peserta didik, misalnya:

  1. Realitas bahwa guru belum memahami sepenuhnya akan motif.
  2. Motif itu sendiri bersifat perseorangan.
  3. Tida ada alat, metode, atau teknik tertentu yang dapat memotivasi peserta didik dengan cara yang sama atau dengan hasil yang sama.

Sebaiknya guru menyadari fungsi motivasi itu sebagai proses, yang memiliki fungsi berikut ini:

  1. Memberi semangat dan mengaktifkan peserta didik supaya tetap berminat dan siaga.
  2. Memusatkan perhatian peserta didik pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar.
  3. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang.

Beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi adalah melalui cara yang belajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, memberi kesempatan peserta didik untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian peserta didik, seperti gambar, foto, diagram, dan sebagainya.

Seorang individu akan terdorong melakukan sesuatu bila merasakan ada kebutuhan. Kebutuhan seseorang itu selalu berubah-ubah selama hidupnya. Sesuatu yang menarik dan diinginkannya pada suatu waktu, tidak akan lagi diacuhkannya pada waktu lain. Karena itu motif harus dipandang sebagai sesuatu yang dinamis.

Clifford T. Morgan memandang bahwa anak (individu) memiliki kebutuhan: untuk berbuat sesuatu demi kegiatan itu sendiri, menyenangkan hati orang lain, berprestasi atau mencapai hasil, dan mengatasi kesulitan. Ada dua kemungkinan bagi peserta didik yang memotivasi keterlibatanya dalam aktivitas pengajaran/belajar yaitu: karena motivasi timbul dari dalam dirinya sendiri dan karena motivasi yang timbul dari luar dirinya.

Kebutuhan keterlibatan dalam pengajaran mendorong timbulnya motivasi dari dalam dirinya sendiri (motivasi intrinsik atau endogen), sedangkan stimulasi dari guru atau dari lingkungan belajar mendorong timbulnya motivasi dari luar (motivasi ekstrinsik atau eksogen). Pada motivasi intrinsik, peserta didik belajar, karena belajar itu sendiri dipandang bermakna bagi dirinya. Tujuan yang ingin dicapai terletak dalam perbuatan belajar itu sendiri (menambah pengetahua, keterampilan).

Pada motivasi ekstrinsik, peserta didik belajar bukan karena dapat memberikan makna baginya, melainkan karena yang baik, hadiah penghargaan, atau menghindari hukuman/celaan. Tujuan yang ingin dicapai terletak di luar perbuatan belajar itu sendiri. Maka pujian terhadap seorang peserta didik yang menunjukkan prestasi belajar merupakan salah satu upaya menumbuhkan motivasi dari luar peserta didik.

Prof. S. Nasution mengatakan bahwa motif atau penyebab peserta didik belajar ada 2 hal yaitu:

  1. Ia belajar karena didorong oleh keinginan untuk mengetahuinya. Dalam belajar terkandung tujuan untuk menambah pengetahuan.
  2. Ia belajar supaya mendapat angka yang baik, naik kelas, mendapat ijazah, dan sebagainya. Tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, tidak terkandung dalam perbuatan belajar.

Motivasi ekstrinsik sangat berkaitan erat dengan konsep reinforcement atau penguatan. Ada dua macam reinforcement yaitu:

  1. Reinforcement positif, sesuatu yang memperkuat hubungan stimulus-respon atau sesuatu yang dapat memperbesar kemungkinan timbulnya sesuatu respon.
  2. Reinforcement negatif, sesuatu yang dapat memperlemah timbulnya respon atau memperkecil kemungkinan hubungan stimulus-respon.

Dan reinforcement sendiri erat hubungannya dengan hadiah, hukuman dan sebagainya. Untuk memperbesar peranan peserta didik dalam aktivitas pengajaran/belajar, maka reinforcement (penguatan) yang diberikan oleh seorang guru sangat diperlukan. Individu akan terus berupaya meningkatkan prestasinya, jika ia memperoleh motivasi dari luar berupa reinforcement positif.

Berkaitan dengan upaya guru memotivasi peserta didik sebenarnya tidak ada langkah-langkah atau prosedur yang standar. Dibawah ini ada beberapa prinsip dan prosedur yang perlu mendapat perhatian agar tercapai perbaikan-perbaikan dalam motivasi, antara lain:

  1. Peserta didik ingin bekerja dan akan bekerja keras. Ia berminat terhadap sesuatu. Ini berarti bahwa hasil belajar akan lebih baik jika peserta didik dibangkitkan minatnya antara lain dengan cara:
  2. Tetapkanlah tujuan-tujuan yang terbatas dan pantas serta tugas-tugas yang terbatas, jelas dan wajar.
  3. Usahakanlah agar peserta didik selalu mendapat informasi tentang kemajuan dan hasil-hasil yang dicapainya, janganlah menganggap kenaikan kelas sebagai alat motivasi yang utama. Pengetahuan mengenai kemajuan dan hasil belajar itu akan memperbesar kegiatan belajar dan memperbesar minat.
  4. Hadiah biasanya menghasilkan sebuah/sesuatu yang lebih baik dari pada hukuman. Kendatipun demikian adakalanya beberapa jenis hukuman dapat digunakan.
  5. Menfaatkanlah cita-cita, sikap-sikap dan rasa ingin tahu peserta didik.
  6. Setiap individu ingin sukses berpretasi dalam usahanya. Dan kalau sukses tecapai akan menambah kepercayaan kepada diri sendiri, jika ia tidak sukses akan berupaya bagaimana sukses itu dapat dicapai.
  7. Suasana yang menggembirakan dan kelas yang menyenangkan akan mendorong partisipasi peserta didik, sehingga proses pengajaran berlangsung dengan baik, peserta didik akan menyenangi sekolah, dan jika peserta didik sedang senang dengan sekolah, hasil belajar akan meningkat.
  8. Motivasi adalah alat pengajaran, bukan tujuan, dan untuk kesempurnaannya memerlukan perhatian terhadap setiap individu.
  9. Pada peserta didik disarankan supaya dapat memotivasi dirinya sendiri sehingga timbul usaha yang tinggi dalam belajar.

Daftar Pustaka
Nana Sudjana. (2000). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
R. Ibrahim dan Nana Syaodih.S. (1996). Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Tinggalkan komentar

Filed under Teknologi Pendidikan