Kebudayaan Dongson

Kebudayaan Dongson adalah kebudayaan perunggu yang berkembang di Asia Tenggara. Nama kebudayaan ini diambil dari nama tempat penyelidikan pertama di daerah Tonkin. Menurut penelitian, di daerah ini lah kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Hal ini berdasarkan banyaknya temuan di daerah ini berupa segala macam alat dari perunggu dan besi dari zaman perunggu.
Mengenai umur Kebuayaan dongson. Victor Goloubew berpendapat bahwa kebudayaan tersebut berkembang sejak abad pertengahan sebelum Masehi. Pendapat nya tersebut berdasarkan temuan mata uang Cina berasal dari Dinasti Han di kuburan-kuburan di Dongson. Adapun Van Heinie Galerrn menyatakan bahwa umur Kebuayan Dongson itu paling muda 300 SM. Pendapat inni di perkuat oleh tidak sama nya hiasan nekara di Dongson dengan bentuk hiasan dari zaman Dinasti Han.
Arca Perunggu
Arca perunggu banyak ditemukan di Bangkinang (Sulawesi Selatan), Riau, dan Bogor, bentuk menampilkan sosok manusia dalam posisi tertentu. Hal yang menarik, arca tersebut di bagian kepalanya di beri tempat untuk  mengait kan tali atau menggantung .
Kapak  sepatu atau kapak corong
Kapak sepatu atau kapak corong adalahyang terbuat dari perunggu yang bagian atas nya berbentuk corong. Kapak corong di sebut juga kapak sepatu karena bagian bentuk corong nya dipakai untuk tempat tangkai kayu yang bentuk nya menyiku seperti bentuk kaki. Kapak corong banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Pulau Selayar, dan Daerah sekitar Danau Sentani, Papua.
Jenis kapak corong bermacam-macam. Ada yang kecil dan bersahaja, ada yang besar dan memakai hiasan, ada yang pendek lebar, ada yang bulat, dan ada yang panjang suatu sisinya. Kapak corong yang panjang suatu sisinya di sebut candras. Tidak semua kapak tersebut di gunakan sebagai perkakas,tetapi ada juga yang di gunakan sebagai tanda kebesaran dan alat upacara.
Nekara perunggu
Nekarat adalah benda yang terbuat dari perunggu berbentuk seperti dandang yang terlungkup atau semacam kerumbung yang berpinggang pada bagian tengah nya dan bagian atasnya tertutup. Di bagian dinding nekar terdapat berrbagai hiasan, seperti garis-garis lurusa dan bengkok,pilin-pilin,bintang,rumah,perahu, dan pemandangan-pemandanganseperti lukisan orang berburu dan orang-orang yang sedang melakukan upacara tari. Nekara perunggu banyaj di temukan di Bali, Pulau Sengean dekat Sumba, Pulau Selayar, Sumatra, Roti, Leti, Alor (Nusa Tebggara Timur), dan Kepulauwan Kei .
Bentuk nekara di Indonesia Timur umumnya lebih besar di bandingkan nekara yang di temukan di Indonesia Barat, seperti Jawa dan Sumatra. Orang Alor menyebut jenis nekara yang lebih kecil ukuran nya dengan nama Moko. Menurut penelitian nekara hanya digunakan pada saat upacara-upacara ritual.
Bejana perunggu
Bejana perunggu berbentuk seperti periuk tetapi Langsing dan Gepeng. Bejana di temukan di Kerinci (Sumatra Barat) dan Madura. Keduanya memiliki hiasan ukiran yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin mirip huruf “j”. Bejana yang di temukan di madura terdapat pula gambar merak dan rusa dalam Kotak Segi Tiga. Tidak diketahui secara pasti fungsi benda ini.
Perhiasan perunggu
Perhiasan perunggu, antara lain berbentuk gelang, kalung, anting-anting, dan cinin. Pada umumnya , barang-barang perhiasan tersebut tidak diberi hiasan ukiran. Peninggalan ini banyak di temukan, antara lain di Anyer (Banten),Plawangan dekat Rembang (Jawa Tengah) Gilimanuk (Bali),dan Malelo (Sumba).

About these ads