Legenda Napoleon

Pada tahun 1840, Bertrand, Gourgaud, Las Cases Junior dan Marchand berlayar ke St. Helena untuk mengambil jasad Napoleon dan melakukan penghormatan terakhir dengan seremonial megah di the Invalides di Paris. Pada tahun 1855, Queen Victoria, tamu Kaisar Napoleon III, menziarahi the Invalides dan meminta putra kecilnya yang kelak menjadi Raja Edward VII untuk bersimpuh di pusara Napoleon Agung.
Sosok Napoleon adalah the roi du peuple, “mediator sejati dalam memadukan masa lalu dengan revolusi”. Kebenaran-kebenaran ini akan menata dunia, akan menjadi kredo dan moralitas seluruh bangsa. Dan, lebih dari yang diungkapkan, era yang patut dikenang ini akan selalu dengan sosokku. Sebab, bagaimanapun aku telah membawa obornya dan menahbiskan prinsip-prinsipnya. Dan, karena penghianatan, kini akulah sang Messiah. “Dalam pemerintahanku, setiap orang Prancis dapat mengatakan, ‘Aku akan menjadi menteri, panglima perang, duke, count atau baron jika aku mampu melakukannya – bahkan menjadi kaisar.’
Sosok Napoleon juga telah tertatam dalam benak putranya Raja Roma yang juga bergelar King of Rome, Prince Imperial, Prince of Parma, Napoleon II, dan Duke of Reichstadt. Asisten tutornya, Foresti, berkomentar, “anak itu memiliki ingatan yang kuat tentang masa lalunya, dan ia terus menjaganya dengan kokoh”. Pada Januari 1832, putera Napoleon terjangkit penyakit warisan Istana Habsburg, yaitu TBC. Ia terserang pneumonia dalam sebuah parade militer. Penyakit itu dengan cepat menggerogotinya hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 22 Juli 1832. Dalam peti jenazah, pemuda malang itu dinyatakan sebagai “Joseph Charles Francis, Duke of Reischstadt, Putra Napoleon, Kaisar Prancis, dan Marie-Louise, Archduchess Austria”.
Pada batu nisan Napoleon di St. Helena tertulis, “Jika saya berhasil, saya akan menjadi manusia terbesar yang dikenal sejarah.”  Penilaian retrospektif paling menarik tentang Napoleon datang dari orang-orang yang mengenalnya dengan baik dan berani berbeda darinya. Talleyrand, dalam pembicaraannya dengan Lord Holland setelah kematian Napoloen, berkata, “Karirnya amat mencengangkan, setidaknya dalam seribu tahun ini. Ia adalah sosok hebat dan tak tertandingi, baik dalam kualitas maupun riwayat hidupnya. Setidaknya, berdasarkan refleksi saya yang berhubungan dan mengenalnya degan dekat, sebutan itu memang layak baginya. Jelas sekali Napoleon adalah sosok paling hebat yang pernah saya temui. Saya pun yakin, dialah sosok paling hebat yang pernah hidup di zaman kita, atau bahkan terhebat di sepanjang zaman.”
Pada tahun 1820, Metternich menggambarkan karakter Napoleon, “Untuk menilai sosok luar biasa ini, kita perlu mengikuti seluruh perjalanan hidupnya. Tak ragu lagi, banyak keberuntungan telah menyertainya. Dan, berkat kekuatan karakter, aktivitas, dan kecemerlangan pikiran yang dipadu dengan kejeniusannya dibidang kemiliteran, Napoleon pun mampu berdiri tegak di posisi yang memang telah ditakdirkan untuknya. Dengan kehendak dan kekuatan yang dimilikinya, ia tidak pernah kehilangan kesempatan dan berbagai jalan yang bisa membelokkan tujuannya. Ia menjadi tuan bagi dirinya sendiri, juga menjadi tokoh di semua peristiwa. Di berbagai kesempatan apa pun, ia selalu berada di posisi sentral.” Dalam memoarnya, Chateubriand menyimpulkan Napoleon sebagai “nafas kehidupan terbaik yang pernah menjiwai manusia.”
Dalam beberapa hal, riwayat Napoleon bersifat sederhana dan lurus. Ia lahir di pulau kecil, meninggal di pulau kecil lainnya, dan di antara keduanya terbentang perjalanan hidup yang fantastis. Pada tahun 1919, dalam karya Historia Doubts Relative to Napoleon Bonaparte, Uskup Besar Whately dengan kelakar cerdasnya mengatakan bahwa Napoleon adalah mitos, bukan tokoh historis. “Nah, jika seorang filsuf yang berpikir bebas – salah satu orang yang mendorong pemikiran tanpa bias dan memandang rendah penyingkapan berpretensi – bertemu dengan serangkaian absurditas seperti ini, bisakah ia tidak menolaknya dengan memandangnya terlalu mengada-ada dan tidak melakukan pembuktian apa pun? Tidak mungkinkah, dengan menelusurinya dari istilah Yunani, nama Napoleon yang berarti “Lion of the forest” disematkan lewat kesepakatan umum. Bukan hanya satu, namun ada banyak jenderal terpilih, terutama karena keberanian dan kehebatannya? Ataukah jangan-jangan “Buona Parte” pada awalnya merupakan semacam istilah umum yang diterapkan untuk makna “yang terbaik” yakni bagian dari pasukan Prancis yang paling berani atau patriotik, yang bersifat kolektif, tetapi kemudian disalahgunakan sebagai nama individu?
Di St. Helena, Napoleon mengisahkan tentang Jenderal Paoli yang beberapa kali pernah berkata kepadanya, “Anda adalah seorang Plutarch, seorang manusia besar zaman purba.” Karirnya sekejam tragedi Sophocles yang berawal dengan rasa bangga yang berlebihan, kemudian diikuti pembalasan keadilan. Namun, bagaimanapun juga, dibutuhkan seorang Shakespeare dan Sophocles untuk mengadili kompleksitas kepribadiannya beserta berbagai potensi pikiran dan karakternya yang sering kali lebih menonjol, bahkan dari pencapaian-pencapaiannya.
Kita dihadapkan pada teka-teki pelik – seorang manusia dengan inteligensi hebat, namun terkadang bertindak dungu secara mengejutkan dalam menilai manusia dan peristiwa. Seorang manusia yang amat manusiawi, bahkan terlalu manusiawi dalam kedekatannya secara pribadi, namun juga dikuasa ambisi gila yang menempatkannay diluar batas kemampuan manusia biasa. Atau, dalam defenisi Aristoteles, hadir sebagai “sosok penjahat sekaligus dewa.”
Disarikan dari Bab 17: Legenda Napoleon dalam buku Napoleon: Sang Manusia Hebat Pencipta Sejarah, karangan Felix Markham. Tahun Terbit 2009.

About these ads

Komentar Dimatikan

Filed under Sejarah Dunia

Komentar ditutup.